ADAB-ADAB DI JALAN (I)

Dalam masalah ini, Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya,…” (QS. An Nuur: 30-31)

Nabi Shallallahu ‘alayhi wasallam juga bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Said al Khudry radhiyallahu ‘anhu:
«إِيَّاكُمْ وَالجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ» ، فَقَالُوا: مَا لَنَا بُدٌّ، إِنَّمَا هِيَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا، قَالَ: «فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلَّا المَجَالِسَ، فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا» ، قَالُوا: وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ؟ قَالَ: «غَضُّ البَصَرِ، وَكَفُّ الأَذَى، وَرَدُّ السَّلاَمِ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ، وَنَهْيٌ عَنِ المُنْكَرِ»
“Jauhilah duduk-duduk di sisi jalan.” Para sahabat berkata: “Kami harus melakukan hal itu, sesungguhnya ia adalah tempat berkumpulnya kami dan kami berbincang-bincang di dalamnya.” Nabi Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Jika kalian menolak kecuali majlis-majlis itu, maka berilah jalan itu haknya.” Mereka bertanya: “Apakah hak jalan itu?” Maka Beliau Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “(Hak jalan yaitu) memalingkan pandangan (dari yang diharamkan), tidak menyakiti (mengganggu), membalas salam, memerintahkan kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.” (HR. Bukhori, 2465)

Diantara adab-adab yang harus diperhatikan di jalan adalah :
1. Wajib Menunaikan Hak-Hak Jalan
Nabi Shallallahu ‘alayhi wasallam telah menjelaskan tentang hak-hak jalan yang harus dipenuhi, diantaranya adalah: memalingkan sebagian pandangan, menghilangkan gangguan di jalan, menjawab salam, melakukan amar makruf dan mencegah kemungkaran. Hak-hak di jalan ini tidak sebatas yang telah disebutkan, akan tetapi hal itu baru sebagiannya. Terdapat hadits-hadits lain yang menjelaskan hak-hak di jalan selain yang telah disebutkan, sehingga dapat disimpulkan bahwa yang telah disebutkan dalam hadis di atas bukanlah bersifat pembatasan.

a. Memalingkan Sebagian Pandangan
Perintah untuk memalingkan sebagian padangan dari perkara yang diharamkan mencakup perintah kepada laki-laki dan perempuan. Sebab jika melepas bebas pandangan terhadap segala sesuatu yang diharamkan akan dapat mendatangkan siksa dan penyakit hati, padahal pelakunya mengira bahwa hal itu dapat menenangkan jiwa serta menyenangkan hatinya, akan tetapi tidak mungkin. Dan orang yang paling besar siksanya adalah yang membiasakan perilaku ini terus menerus. Syaikhul Islam Rahimahullah berkata: membiarkan pandangan dapat menyebabkan hati tertambat yang dengannya seseorang akan disiksa. Jika ikatan tersebut kuat hingga akhirnya menyukai dan menyenanginya, maka akan semakin bertambah sakit siksanya. Sama halnya, jika yang disukai dan disenanginya ia dapatkan atau tidak. Jika ia tidak mendapatkan apa yang ia cintai, maka ia tersiksa karena sedih, cemas dan susah. Adapun jika ia mendapatkan apa yang ia cintai, maka ia juga tetap tersiksa karena takut kehilangan dan akan berusaha untuk senantiasa mendapatkannya dan mendatangkan ridhonya (al fataawaa 14/ 156-157). Sebab itu semua adalah berawal dari pandangan. Kalau sekiranya ia memalingkan sebagian pandangan dari yang diharamkan, niscaya jiwa dan hatinya akan tenang.

Syariat yang suci ini tidak luput untuk mengatur apa yang terjadi pada seorang manusia tanpa ia sadari. Bahkan memerintahkan siapa saja yang secara tidak sengaja melihat wanita asing tanpa ia sengaja untuk memalingkan pandangann darinya dan tidak meneruskannya. Jarir bin Abdullah Radhiyallahu ‘anhu berkata:

سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِي أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِي
Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam perihal pandangan tiba-tiba, maka beliau memerintahkanku untuk memalingkan pandanganku. (HR. Muslim (2159), Ahmad (18679), Tirmidzi (2776), Abu Daud (2148), Darimi (2643))
Makna nazhral faj’ah (pandangan tiba-tiba) adalah pandangan seseorang terhadap wanita asing tanpa disengaja, maka tidak ada dosa atasnya pada pandangan pertama, akan tetapi wajib baginya memalingkan pandangannya ketika itu. Jika ia memalingkan pandangannya ketika itu maka tidak ada dosa atasnya, akan tetapi jika padangannya diteruskan maka berdosalah dia sebagaimana dikatakan dalam hadis ini. Ini adalah pendapat Imam Nawawi rahimahullah. (Syarah Shahih Muslim Jilid 7 (14/ 115))

b. Tidak Menyakiti Orang Lain
Di antara hak-hak di jalan adalah tidak menyakiti; tidak menyakiti badan dan kehormatan orang lain. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda :

المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
“Seorang muslim adalah jika kaum muslimin yang lain selamat dari lisan dan tangannya, dan seorang yang hijrah adalah orang yang menjauhi apa-apa yang Allah larangkan atasnya.” (HR. Bukhori (10), Muslim (40), Ahmad (6714), Nasa’i (4996), Abu Daud (2481), Darimi (2716))

Hadits ini di antara perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam yang ringkas, dimana mencakup siapa saja yang berbicara dengan lisannya dan menyakiti kehormatan atau mencela saudaranya. Termasuk juga orang yang menjulurkan lidahnya dalam rangka menghina atau meremehkan saudaranya. Demikian juga dengan tangan, tidak sebatas tangan yang memukul, tetapi juga perkara lain seperti menyakiti orang lain melalui tulisan atau membunuh, dll. Bahkan termasuk kebaikan dan keunggulan dari agama ini, bahwa mengendalikan diri untuk tidak menyakiti orang lain adalah sedekah terhadap diri sendiri. Hal ini sebagaimana disebutkan secara jelas dalam hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: aku bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alayhi wasallam:

أَيُّ العَمَلِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: «إِيمَانٌ بِاللَّهِ، وَجِهَادٌ فِي سَبِيلِهِ» ، قُلْتُ: فَأَيُّ الرِّقَابِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: «أَعْلاَهَا ثَمَنًا، وَأَنْفَسُهَا عِنْدَ أَهْلِهَا» ، قُلْتُ: فَإِنْ لَمْ أَفْعَلْ؟ قَالَ: «تُعِينُ ضَايِعًا، أَوْ تَصْنَعُ لِأَخْرَقَ» ،: قَالَ: فَإِنْ لَمْ أَفْعَلْ؟ قَالَ: «تَدَعُ النَّاسَ مِنَ الشَّرِّ، فَإِنَّهَا صَدَقَةٌ تَصَدَّقُ بِهَا عَلَى نَفْسِكَ»
“Amal apakah yang paling utama?” Beliau Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Iman kepada Allah dan jihad di jalan-Nya.” Aku bertanya: “Budak manakah yang paling utama (untuk dimerdekakan)?” Beliau Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Yang paling tinggi harganya dan lebih berharga bagi pemiliknya.” Aku bertanya: “Jika aku tidak bisa melakukan?” Beliau Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Engkau menolong orang yang kehilangan atau membantu membuatkan sesuatu bagi orang yang tidak bisa membuatnya.” Aku berkata: “Jika aku tidak bisa melakukan?” Beliau Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Meninggalkan perbuatan buruk kepada manusia, sesungguhnya ia adalah sedekah yang engkau berikan kepada dirimu sendiri.”

Dalam riwayat Muslim disebutkan: “Engkau mencegah keburukanmu kepada manusia, maka itu adalah sedekah darimu kepada dirimu sendiri.” (HR. Bukhori (2518), Muslim (84), Ahmad (20824))

c. Membalas Salam
Hak-hak di jalan yang lain adalah membalas salam. Hal ini wajib karena sabda Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

خَمْسٌ تَجِبُ لِلْمُسْلِمِ عَلَى أَخِيهِ: رَدُّ السَّلَامِ، وَتَشْمِيتُ الْعَاطِسِ، وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ، وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ، وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ
“Lima hal yang wajib dilakukan seorang muslim terhadap saudaranya: membalas salam, tasymiitul ‘aathis (mengucapkan “yarhamukallaah” terhadap saudaranya yang bersin dan dia mengucapkan alhamdulillah), memenuhi undangan, membesuk orang sakit, dan mengantarkan jenazah.” (HR. Bukhori (1240), Muslim (2162) dan lafazh baginya, Ahmad (27511), Tirmidzi (2737), Nasa’i (1938), Abu Daud (5030), Ibnu Majah (1435))

Kebanyakan orang mencukupkan salam terhadap orang yang mereka ketahui. Jika mengenal maka mereka akan mengucapkan salam, dan jika tidak maka mereka tidak mengucapkan salam. Hal ini tentunya menyelisihi sunnah (penjelasan masalah ini telah lalu dalam bab salam).

d. Melakukan Amar Makruf Nahi Mungkar
Masalah ini adalah masalah yang besar, baik urusan maupun kedudukannya. Dengannya umat ini menjadi sebaik-baik umat. Allah Ta’ala berfirman: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 110) Ibnu Katsir rahimahullah berkata: Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Siapa yang ingin menjadi golongan umat ini maka hendaklah ia memenuhi syarat yang diajukan Allah dalam masalah ini, diriwayatkan oleh Ibnu Jarir. Tetapi siapa yang tidak menyandang sifat tersebut maka telah menyerupai sifat orang Yahudi yang telah dicela oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya: “Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (al-Maidah: 79) (Tafsiirul Quran al Azhiim (1/387))

Dan dengan sebab mereka meninggalkan hal tersebut, maka mereka mendapatkan siksa. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, ia berkata: Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata setelah bertahmid dan memuji Allah:

إِنَّكُمْ تَقْرَءُونَ هَذِهِ الآيَةَ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ} [المائدة: 105] ، وَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابٍ مِنْهُ»
“Wahai manusia, sesungguhnya kalian benar-benar membaca ayat ini (Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk). Dan sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Sesungguhnya manusia jika melihat orang yang zholim sedangkan mereka tidak mengingatkan mereka, maka hampir saja Allah akan membinasakan mereka semua dengan siksa dari-Nya.” (HR. Shohih dengan syarat Syaikhani (1/198), Abu Daud (4338) dan dishahihkan oleh al-Albany, Tirmidzi (2168), Ibnu Majah (4005))

Dalam hal melakukan amar makruf nahi mungkar terdapat beberapa faedah yang besar, diantaranya: selamatnya kapal umat ini dari kebinasaan, mengekang kebatilan dan pelakunya, menyebarnya kebaikan, terbukanya keamanan, hilangnya kehinaan, dll.

Melakukan amar makruf nahi mungkar tidak terbatas dengan cara tertentu dan dilakukan oleh orang tertentu, akan tetapi melakukan amar makruf nahi mungkar adalah kewajiban setiap orang, dan semuanya sesuai dengan kemampuan. Hadits yang membicarakan masalah ini bersifat umum dan tidak mengkhususkan orang tertentu dari orang yang lain. Abu Said al-Khudry radhiyallahu ‘anhu berkata meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alayhi wasallam: “Siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, dan jika tidak bisa maka ubahlah dengan lisannya, dan jika tidak bisa maka ubahlah dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim (49), Ahmad (10689), Tirmdzi (2172), Nasa’i (5008), Abu Daud (1140), Ibnu Majah (1275))

Dalam hadis tersebut mengisyaratkan pada beberapa perkara:
Pertama, melakukan pengingkaran secara bertahap. Tidaklah seseorang melakukan tingkatan kedua sebelum melakukan yang pertama, kecuali jika lemah. Seseorang tidak cukup mengingkari dengan hatinya padahal dia mampu mengingkarinya dengan lisannya.

Kedua, siapa yang memiliki kedudukan, maka pengingkarannya kepada kemungkaran harus dilakukan dengan tingkatan pengingkaran yang lebih tinggi. Berapa banyak keluarga yang memiliki kepala keluarga yang ditaati dan dia mampu melakukan pengingkaran dengan kekuasaannya, maka pengingkarannya harus dilakukan dengan tangannya, dan tidak ada udzur dalam hal ini.

Ketiga, wajib hukumnya mengetahui kemungkaran sebelum melakukan pengingkaran, apakah perkara yang hendak diingkari tersebut masuk dalam wilayah khilaf (perbedaan pendapat) atau tidak. Karena dalam hal ini banyak orang yang berbuat melampaui batas. Hendaklah masalah ini diperhatikan.

Keempat, orang yang mengingkari kemungkaran wajib memperhatikan kaidah mashlahat dan mafsadat. Janganlah seseorang terburu-buru melakukan pengingkaran sebelum mengetahui mana yang lebih besar antara mashlahat dan mafsadatnya. Jika dia mengetahui bahwa mafsadatnya lebih banyak maka ia tidak melakukan pengingkaran, demikian juga sebaliknya. Jangan sampai melakukan pengingkaran tapi malah menimbulkan mafsadat yang lebih besar.

Kelima, jika seseorang tidak mampu melakukan pengingkaran pada tingkatan pertama dan kedua, maka jangan sampai hatinya lalai daripada mengingkarinya dan nampak pada perubahan wajahnya.

e. Memberikan Petunjuk Jalan Kepada Penanya
Di antara hak jalan yang lain adalah memberikan petunjuk jalan kepada orang yang bertanya tentang jalan, baik yang bertanya itu orang tersesat atau orang yang buta. Masalah ini dijelaskan secara jelas dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tentang kisah orang-orang yang bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alayhi wasallam tentang hak-hak jalan, kemudian Beliau Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “dan menunjukkan jalan.” (HR. Abu Daud (4815), al-Albany berkata hadits hasan shohih, nomor 4031)

Dalam hadits lain riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dijelaskan bahwa menunjukkan jalan termasuk bentuk sedekah. Nabi Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda :

ودلُّ الطَّرِيْقِ صَدَقَةٌ
“Dan menunjukkan jalan adalah sedekah.” (HR. Bukhori (2891))*

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: