Aku Merasa Berdosa Terhadap Seorang Wanita

Enam tahun yang lalu, pada suatu hari yang indah lagi hujan, datanglah kepada saya seorang da’i di rumahku, di Makkah al-Mukarramah. Tampak padanya kesedihan dan kegundahan. Lalu saya bertanya kepadanya, ‘Ada apa denganmu?’
Dia menjawab, ‘Istriku, dia mulai curiga aku telah menikah lagi.’

Lalu saya berkata kepadanya dengan keheranan, ‘Apakah engkau benar-benar telah menikah lagi?
Dia menjawab, ‘Ya, saya telah menikah sembunyi-sembunyi dua bulan yang lalu.’ Dan saya ingin Anda membantu saya untuk menyelesaikan permasalahan saya, dan menenangkan kehidupan saya. Jika istri pertama saya terus menerus menyelidiki pernikahan saya, maka itu akan merugikannya, dan merugikan keluarga saya. Pada waktu yang bersamaan, saya berbahagia dengan istri kedua saya, dan tidak mungkin bagi saya berfikir untuk menceraikannya. Saya telah mengingkari bahwa saya telah menikah, dan sayapun berusaha untuk meyakinkannya bahwa saya tidak menikah, hanya saja dia tidak percaya. Dia meminta saya untuk bersumpah demi Allah bahwa saya tidak menikah dengan wanita lain, dan aku tidak bersumpah untuknya.

Setelah dia selesai bercerita, akupun duduk berfikir beberapa menit. Dan tiba-tiba saya menemukan satu jalan keluar untuknya yang saya memohon ampun kepada Allah jika pada jalan keluar tersebut terdapat makar dan hilah. Kukatakan kepadanya, ‘Agar istri pertama Anda yakin bahwa Anda belum menikah, Anda harus menghadirkan istri kedua di sisinya.
Diapun bangkit dari tempat duduknya seraya berkata, ‘Apa?!!! Api akan berkobar, dan perang dunia ketigapun akan dimulai.’

Kukatakan kepadanya, ‘Tenanglah, bahkan api itu akan padam, dan akan menjadi dingin dan keselamatan.’
Dia berkata, ‘Bagaimana?’

Saya katakan, ‘Datangkanlah istri yang kedua, biarkan dia mengetuk pintu rumah istri pertamamu, sementara Anda ada di sana. Kemudian jadikanlah istri pertama Anda yang membuka pintu. Lalu suruhlah istri kedua Anda untuk menemui Anda dan bertanya kepada Anda tentang permasalah syar’i yang segera butuh jawaban, karena keberadaan Anda sebagai seorang da’i. kemudian istri kedua menjelaskan permasalahannya di depan Anda, dan tentu saja istri pertama bersama Anda berdua. Permasalahan yang dia konsultasikan adalah bahwa dia meragukan suaminya telah menikah dengan istri yang kedua, dan bahwa dia telah menanyainya tapi dia mengingkarinya, akan tetapi dia masih banyak meragukannya. Lalu dia meminta solusi kepada Anda.

Disinilah jawabannya adalah sebagai berikut: ‘Suami Anda jujur, ini adalah was-was syetan untuk merusak kehidupan suami istri yang itu adalah perkara terbesar yang dilakukan oleh syetan, agar memisahkan keduanya, serta memporak-porandakan urusannya. Maka mintalah perlindungan kepada Allah dari Syaitan. Dan jauhkanlah keragu-raguan itu dari pikiran Anda. Sesungguhnya keadaan Anda itu adalah seperti keadaan banyak wanita, diantara mereka adalah istriku, yang syetan telah membisikkan was-was bahwa saya telah menikah, dan sesungguhnya saya, di hadapannya sekarang, saya katakan kepadanya, ‘Seandainya saya punya istri lain di luar ruangan ini, maka dia telah tercerai.’

Teman saya itupun sangat berbahagia dengan solusi ini, diapun bergegas dengan cepat karena kegembiraannya sebelum dia mengambil apapun dari minuman, dan memakan sesuatupun dari makanan. Dia pergi, dan mulai melaksanakan langkahnya yang dia sukses melaksanakannya dengan kesuksesan besar yang saya tidak membayangkannya.

Istri pertamanya, begitu mendengar ucapannya yang mengatakan, ‘Seandainya saya punya istri di luar ruangan ini, maka dia tercerai,’ diapun duduk diatas tanah dihadapan kedua lututnya, lalu mencium kedua tangan dan lututnya serta menangis bahagia, dan wanita malang itu bersumpah bahwa dia tidak akan meragukannya setelah hari tersebut.

Dengan itulah, permasalahan suami istri itu benar-benar selesai, dan hidup hingga saat ini tanpa terbongkar. Akan tetapi bertahun-tahun setelahnya, saya merasa bersalah dalam bantuan makar saya bagi teman saya itu. Agar sebagian pasangan tidak mengambil faidah dari cara ini dan melaksanakannya, maka wajib bagi kalian wahai para istri untuk menyuruh wanita itu keluar kemudian suruh suami Anda untuk mengulangi ucapannya, jika dia jujur.

Karena perasaan bersalah saya terhadap wanita itu, yang saya turut andil dalam mengakalinya, maka saya bongkar langkah tersebut dan memaksa diri saya untuk tidak menggunakannya sekali lagi. Akan tetapi sekalipun demikian, saya tidak mampu menjamin bagi para istri untuk tidak berfikir langkah baru bagi hilah atas mereka, jika salah seorang sahabat saya mendapatkan permasalahan seperti ini karena bukan termasuk kebiasaan saya untuk berlepas diri dari orang yang saya cintai.

Ya Allah… ampunilah aku dan rahmatilah aku.

Mamduh.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *