Aku Tidak Berperasaan

Permasalahanku adalah bahwa aku tidak bisa berperasaan kepada orang lain, terutama saudariku satu-satunya. Dan sayangnya, dia sangat membenciku, dia senantiasa mencari-cari kesalahanku untuk meneriakkan kebenciannya kepadaku. Aku berusaha untuk menjadi orang yang sebaik-baiknya, aku juga banyak menyandarkan diri kepada Allah di malam hari dengan berdo’a agar menghilangkan kebencian yang ada di antara kami. Sementara dia banyak berdo’a jelek atas saya pada banyak kesempatan, agar dia bisa melihat saya dalam keadaan rendah terhina. Dia senantiasa berkata bahwa saya tidak berperasaan kepadanya. Demikian pula sebagian teman juga berkata seperti perkataannya, bahkan mereka menambahkan bahwa saya adalah orang yang terperdaya. Saya sangat terpukul dengan buruknya hubungan bersama saudari saya ini. Bagaimana saya bisa berperasaan kepada saudari saya, dan menjadikannya mencintai saya?
Khadijah di J

Jawab: Hayyakillah, selamat datang di majalah Qiblati.
Sungguh sangat menyakitkan bagi kami, di saat hubungan antara sesama saudara menjadi buruk hingga mencapai titik keburukan yang tinggi. Maka, biarkanlah saya menyelisihi anda dalam masalah pendiagnosaan sebuah permasalahan. Anda kurang baik dalam menyampaikan gambaran diri anda, atau anda kurang baik dalam mengabarkan keadaan anda. Anda mengatakan bahwa anda tidak memiliki perasaan kepada orang lain, terutama saudari anda, sementara saya mengatakan sebaliknya, yaitu bahwa perasaan yang anda kira tidak ada adalah perasaan yang telah mendorong anda untuk menulis pertanyaan anda ini. Perasaan itulah yang menjadikan anda untuk mengangkat tangan anda berdo’a kepada Allah Ta’ala di waktu yang tidak ada seorangpun melihat anda kecuali Dia Subhanahu. Anda berdo’a kepada-Nya agar memperbaiki hubungan di antara anda berdua.

Sesungguhnya perasaan yang ada pada diri anda bukanlah perasaan yang biasa-biasa saja, bahkan itu adalah kecintaan di dalam hati anda, yang ada dan tertancap, walillahil hamdu.

Pada dasarnya, anda tidak membenci saudari anda, karena anda tidak dengki padanya, tidak juga senang keburukan bagi dia walillahil hamdu. Jadi, apakah sebenarnya permasalahan tersebut?

Biarkanlah saya berterus terang kepada anda, saya katakan, ‘Andalah penyebab permasalahan ini. Karena anda dengan kesederhanaan anda, kurang baik dalam menyampaikan perasaan anda. Anda tidak memiliki kemampuan untuk memikat orang lain, serta bergaul dengan mereka, sama saja apakah bersama dengan keluarga atau juga teman-teman. Saudari, dan teman-teman wanita terbiasa dengan cara keterbukaan dalam pergaulan, sementara anda menutup diri anda. Maka orang-orang di sekitar anda merasakan kekakuan anda dalam pergaulan yang mengakibatkan mereka lari dari anda, apakah itu saudari ataukah sebagian teman-teman anda.

Biarkanlah saya bertanya, mengapa teman-teman wanita anda mensifati anda sebagai orang yang terperdaya?
Dari sela-sela tabiat anda, maka anda tidak hidup dalam kesedihan mereka, tidak juga terpengaruh dengan permasalahan mereka. Oleh karena itu, jika anda ingin memperbaiki hubungan dengan teman-teman anda, wajib bagi anda untuk menyertai mereka dalam kesedihan dan permasalahan mereka. Berlemah lembutlah kepada mereka, tampakkan kecintaan anda kepada mereka. Adapun terhadap saudari anda, maka saya nasihatkan untuk melupakan apa yang telah lalu, kemudian berusahalah untuk lebih banyak dekat dengannya. Biasakanlah diri anda untuk duduk-duduk bersamanya, bicarakanlah diri anda kepadanya, dengarkanlah pembicaraannya, sertailah kesedihan-kesedihannya, serta manfaatkanlah kesempatan tersebut sebaik-baiknya.

Misal, seandainya saudari anda tertimpa sakit ringan, seperti demam, maka letakkanlah tangan anda dengan lembut di atas kepalanya, lalu ucapkanlah dengan suara ringan yang bisa di dengar:

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ اْلبَأْسَ وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَاءً إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَماً
“Ya Allah, Rabb Manusia, hilangkanlah sakit, sembuhkanlah, Engkaulah Penyembuh, tidak ada kesembuhan melainkan penyembuhan-Mu, suatu penyembuhan yang tidak akan meninggalkan derita.”

Kemudian berikanlah sebagian obatnya, lalu datangkanlah sup hangat agar dia meminumnya. Maka dengan cara seperti ini, anda akan bisa mengambil hatinya dengan izin Allah Ta’ala.

Oleh karena itu, wajib bagi anda untuk perhatian dengan memanfaatkan waktu-waktu dan kondisi-kondisi yang di dalamnya anda bisa menyampaikan perasaan anda di hadapan saudari anda. Jangan lupa juga dengan perhatian dari sisi pemberian hadiah. Persembahkanlah kepada saudari anda sebuah hadiah ringan yang disukainya. Berusahalah untuk banyak duduk bersamanya, terutama setelah anda persiapkan suatu jamuan ringan, kemudian undanglah ia untuk makan bersama anda, lalu berbicara dan bercandalah denganya. Maka dengan demikian, tujuan itu bisa diraih.

Pada banyak keadaan, akan mungkin ada beberapa pertanyaan yang dihadapkan kepada anda, terutama sebelumnya mereka menjauh dari anda, seperti akan dikatakan kepada anda, siapakah yang telah merubahmu? Atau dikatakan kepada anda, ‘Maha Suci Allah, yang telah memberikan hidayah dan merubah keadaan!’ Sebagaimana mungkin akan banyak ungkapan-ungkapan. Maka pada saat itu jawaban yang harus diberikan adalah, ‘Engkau adalah saudariku, yang Allah Ta’ala telah memerintahkanku untuk menyambung rahim denganmu. Aku sungguh sangat mencintaimu wahai ukhti, sekalipun telah tampak sebagian perkara pada hari-hari yang lalu, maka demi Allah aku sama sekali tidak bermaksud demikian.’ Maka dengan cara ini, cinta di antara kalian berdua akan tetap langgeng.

Adapun isyarat anda yang menunjukkan bahwa saudari anda berdo’a jelek atas anda, agar dia bisa melihat anda rendah terhina, maka ini adalah sebuah permusuhan yang diharamkan oleh Allah Ta’ala. Bagaimana mungkin dia melakukan yang demikian, sementara dia adalah saudari anda, dan Allah Ta’ala telah memerintahnya untuk berbuat baik kepada anda dan menyambung rahim dengan anda?

Nabi Shallallahu ‘alayhi wasallam telah bersabda:
« لاَ يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ … »
“Tidak henti-hentinya (do’a) itu akan dikabulkan bagi seorang hamba selagi dia tidak berdo’a dengan dosa dan memutus rahim.” (HR. Muslim)

Maka tidak boleh bagi dia untuk berdo’a dengan do’a semacam itu. Dan saya juga menyangka bahwa saudari anda itu melakukan perbuatan itu hanyalah di lisannya saja dan tidak dari lubuk hatinya. Dia ungkapkan kalimat itu sebagai pelampiasan atas pergaulan yang dia dapati dari anda, yang kadang menjadikannya merasa bahwa anda tidak mencintainya, atau anda tidak menyayanginya, atau makna-makna yang lain.

Seandainya anda ditakdirkan mendengar saudari anda berdo’a jelek atas anda dengan do’a yang diharamkan, atau do’a yang dimakruhkan, maka janganlah membalas dia, pergilah darinya. Hingga saat dia sudah tenang, jelaskanlah kepadanya tentang hukum syari’at do’a tersebut. Kemudian ingatkanlah dia, bahwa anda adalah saudari yang mencintainya. Bahwasannya anda berdo’a untuknya tanpa dia ketahui. Juga jelaskanlah kepadanya bahwa anda mendoakannya dengan doa yang lebih utama daripada doa yang anda panjatkan untuk diri anda sendiri.

Terakhir, saya wasiatkan kepada anda untuk menjadikan kecintaan anda itu dengan perbuatan dan bukan hanya dengan ucapan saja. Dan ketahuilah bahw saya tidak berbicara tentang kondisi keluarga serta peran kedua orang tua, agar tidak terlalu panjang jawabannya. Saya memohon kepada Allah taufik bagi anda. Amin.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *