Apa Kutolak Karena Mimpi?

Ada seorang yang melamarku, aku dan keluarga menganggapnya sebagai orang baik dan shalih, dia shalat berjama’ah, tidak merokok, dan bersemangat untuk menghadiri halaqah ilmu, dan akhkaknya baik. Akan tetapi, bebarapa hari setelah aku shalat istikharah, aku bermimpi melihat kepala-kepala besar yang menakutkan, yang menjadikanku merasa ingin lari darinya. Maka apakah nasihat anda bagi saya? K di B

Jawab: Hayyakillah, selamat datang di majalah Qiblati.

Islam telah meletakkan syarat-syarat untuk mengetahui suami istri yang shalih dan shalihah. Jika seorang gadis telah melakukan sebab-sebab, dan walinya telah bertanya tentang siapa yang melamar, tentang akhlaq dan prilakunya, dan biografi kehidupannya, lalu melihat padanya ada keshalihan, serta kemampuan untuk memuliakan kehidupan suami istri, lalu dengan istikharah, sang gadis dan keluarganya merasa ada kemudahan, maka bertawakkallah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa ini termasuk kabar gembira kebaikan dalam masalah pernikahan.

Adapun keberadaan seorang gadis yang melihat kepala-kepala besar yang menakutkannya, membuatnya cemas, atau dia melihat orang yang menakut-nakutinya dari perkara pernikahan, maka hal itu tidak dianggap sama sekali. Karena seandainya apa yang dia lihat adalah sesuatu dari Allah, maka tidak akan datang dengan bentuk buruk yang menyakitkan seperti itu.
Sebagaimana datang di dalam sebuah hadits dari Rasulullah Shallallahu alayhi wasallam
الرُّؤْيَا مِنَ اللهِ ، وَالْحِلْمُ مِنَ الشَّيْطَانِ

“Mimpi itu dari Allah dan mimpi buruk itu dari syetan.”

Sebagaimana seorang muslim melihat mimpi baik, maka kadang dia juga melihat mimpi buruk dari syetan. Maka jangan menoleh kepadanya. Janganlah apa yang dilihatnya menjadi penghalang dari kemudahan kehidupannya, serta pengambilan keputusan yang penting.

Sikap yang dituntut dalam melihat perkara-perkara seperti ini adalah apa yang dikeluarkan oleh at-Turmudzi dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu alayhi wasallam bersabda:

«إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ الرُّؤْيَا الْحَسَنَةَ فَلْيُفَسِّرْهَا، وَلْيُخْبِرْ بِهَا، وَإِذَا رَأىَ الرُّؤْيَا الْقَبِيْحَةَ فَلاَ يُفَسِّرْهَا، وَلاَ يُخْبِرْ بِهَا»

“Jika salah seorang di antara kalian melihat mimpi yang baik, maka hendaknya dia menafsirinya, dan mengabarkannya. Jika dia melihat mimpi buruk, maka jangan menafsirinya dan jangan memberitakannya.”
Yaitu menyembunyikan keburukan dan bertanya tentang kebaikan.
Imam Muslim, Abu Dawud, dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu alayhi wasallam bersabda:

« إِذَا رَأَى أَحَدُكُمُ الرُّؤْيَا يَكْرَهُهَا فَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلاَثًا وَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ ثَلاَثًا وَلْيَتَحَوَّلْ عَنْ جَنْبِهِ الَّذِى كَانَ عَلَيْهِ »

“Jika salah seorang di antara kalian melihat mimpi yang dibencinya, maka meludahlah ke kiri tiga kali, kemudian mintalah perlindungan kepada Allah dari syetan tiga kali, kemudian rubahlah posisi tubuhnya dari posisi yang sebelum dia berada.”

Saya ingin anda faham, bahwa di dalam syariat tidak pernah disebutkan adanya hubungan antara istikharah dengan mimpi. Islam tidak pernah menuntut dari kita untuk menjadikan mimpi sebagai penggerak utama dalam kehidupan kita. Karena itu berseberangan dengan kebiasaan Islam yang itu merupakan agama kehidupan. Kehidupan tidak tegak dengan mimpi-mimpi yang dilihat oleh manusia, kecuali berita kebaikan. Karena hal itu memiliki pengaruh untuk meningkatkan semangat bagi manusia. Maka hadapilah kehidupan dengan penuh kebahagiaan, dan biarkanlah masa lalu dengan penuh meminta pertolongan kepada Allah terhadap apa yang mendatangkan manfaat.

Sekalipun mimpi termasuk sisa-sisa kenabian hingga hari kiamat sebagaimana dikeluarkan oleh al-Bukhari dengan sanadnya dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu alayhi wasallam bersabda:

« لَمْ يَبْقَ مِنَ النُّبُوَّةِ إِلاَّ الْمُبَشِّرَاتُ » . قَالُوا وَمَا الْمُبَشِّرَاتُ قَالَ « الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ »
“Tidak tersisa dari kenabian kecuali berita-berita gembira.” Mereka bertanya, ‘Apa itu berita gembira?’ Beliau menjawab: “Mimpi yang baik.”

Jadi tidak tersisa kenabian itu kecuali mimpi yang baik, bukan kepala-kepala besar yang menakutkan, serta mimpi-mimpi yang menegangkan. Bahkan mimpi buruk secara umum bukan perkara yang lazim dalam kehidupan manusia. Bahkan hukum asalnya adalah seorang manusia itu melihat kepada kenyataan hidup, serta mengambil sebab-sebabnya, karena itu adalah sunnah Allah Ta’ala di alam ini, maka hendaknya bertawakkal kepada Allah Ta’ala.

Sebagai tambahan itu semua, yaitu harus dibedakan antara mimpi baik yang manusia melihat di dalamnya ada kebaikan atau peringatan dari keburukan dengan sesuatu yang menenangkan, dengan mimpi buruk yang itu dari syetan, dan keburukan yang dibawanya untuk anak cucu Adam. Maka tidak semua yang dilihat oleh manusia dalam mimpinya itu sesuatu yang baik dan bermanfaat baginya.

Karena orang yang melamar anda adalah seorang laki-laki yang shalih, ahlu masjid, dan berakhlaq baik, maka nasihatku kepada anda terimalah. Saya sebagai orang yang pertama kali mengucapkan selamat kepada anda dengan pernikahan yang penuh barakah tersebut. Mudah-mudahan Allah Ta’ala memberkahi kalian berdua, melimpahkan keberkahan atas kalian, dan mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan. Wallahul muwaffiq.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: