Bagaimana Cinta Kasih Bersemi Di antara Anak-Anak Anda?

Ummu Mariyah Iman Zuhair

Tindakan orang tua yang baik dapat menyebabkan cinta bersemi di antara anak-anak. Maka, kewajiban orang tua adalah mencari cara bertindak yang baik sesuai dengan tahapan perkembangan anak yang akan dilalui oleh anak-anak mereka. Hal ini bisa kita mulai dari sesuatu yang paling mendasar, yaitu:

Pertama, kapan anda mencium dan memberikan cinta?
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam pernah melihat seorang laki-laki yang memiliki dua orang anak, laki-laki itu memberikan ciuman kepada salah seorang anaknya dan tidak memberikannya kepada anak yang lain. Maka Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

« فَهَلاَّ وَاسَيْتَ بَيْنَهُمَا »
“Mengapa tidak engkau membagi sama antara mereka berdua?” Jadi, lain kali jika ingin mencium salah satu dari anak anda atau mendekapkannya di dada dan memberikan cinta dan kasih sayang, janganlah anda melakukan yang demikian di hadapan anak-anak anda yang lain. Jika tidak demikian, maka anda harus membagi ciuman bersama anak-anak anda yang lain. Maksudnya adalah, jika anda memberikan ciuman kepada salah satu dari anak anda padahal saudara-saudaranya yang seusia ada, maka anda hendaklah memperhatikan yang lain juga dan memberikan ciuman. Dan jika anda memberikan ciuman yang banyak kepada salah seorang dari anak-anak anda dan tidak kepada yang lain, maka ketahuilah, sesungguhnya anda telah meletakkan benih-benih hasad / iri dengki dan menyirami pohon permusuhan antara mereka. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

« اعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلاَدِكُمْ فِى النُّحْلِ كَمَا تُحِبُّون أَنْ يَعْدِلُوا بَيْنَكُمْ فِى الْبِرِّ وَاللُّطْفِ »
“Berbuat adil-lah kepada anak-anak kalian dalam pemberian sebagaimana halnya kalian mencintai bila mereka sama-sama dalam kebaikan dan kasih sayang antara kalian!” (HR. Thabrani, Shahihul Jami’ (1926))

Kedua, hindarilah problem saudara-saudara Yusuf!
Ketika dilahirkan anak yang kedua, dan ia mulai tumbuh dan berkembang serta mengenal sekitarnya, dia tidak saja mengenal kedua orang tua disekitarnya, tetapi ia juga mengenal saudara-saudaranya yang lebih dahulu lahir, lebih kuat dan lebih besar berat badannya. Ketika ia tumbuh, ia mendapati bahwa ia berada setingkat di bawah mereka dalam masalah perlakuan. Hal ini semakin jelas dengan beberapa perkara di bawah ini:

Kita memberikannya mainan yang sudah usang setelah saudara tuanya menerima yang baru dan digunakan di hadapan adiknya. Kita juga memberikan pakaian saudaranya yang sudah usang, kecuali sedikit yang baru.

Yang semakin menambah problema adalah kelahiran anak ketiga dalam suatu keluarga, di mana tumbuh perhatian yang baru dari kedua orang tua sehingga berkuranglah perhatian mereka kepada anak kedua. Pada saat ini anak kedua akan menempati posisi yang baru di antara saudara-saudaranya. Jadilah ia anak pertengahan. Dan sesungguhnya kedudukan anak pertengahan tidak akan menyebabkannya hasad / iri dengki karena ia diserang dari depan, dari kakaknya, dan dari belakang, dari adiknya.

Adapun anak terakhir dalam suatu keluarga, maka harus diperlakukan secara khusus, karena beberapa hal di bawah ini:
Pertama, perlakuan dan kencenderungan kedua orang tua terhadapnya cenderung berbeda dengan sikapnya kepada saudara-saudara yang lain. Karena pada saat itu usia kedua orang tua bertambah dan harapan mereka berdua untuk melahirkan lagi makin terbatas, sehingga mereka memperanjang masa kanak-kanak anak terakhir mereka.

Kedua, pada sebagian kondisi kita mendapati bahwa anak terakhir sangat diperhatikan khusus dan dimanjakan oleh kedua orang tuanya atau salah satunya. Dari sinilah menyala api dendam dalam diri saudara-saudaranya. Hal ini mengingatkan kita kepada kisah Yusuf dan siksaan yang menimpanya sebagai akibat kebencian saudara-saudara Yusuf terhadapnya, karena kedua orang tuanya dirasa memberikan perhatian dan kasih sayangnya kepada Yusuf lebih dari yang diberikan kepada mereka.

Ketiga, kita mendapati sebagian orang tua memberikan cinta dan kasih sayang yang berlebih kepada salah seorang dari anaknya dan tidak kepada yang lain, bukan karena ia lebih cantik / tampan, atau karena anak pertama atau terakhir, akan tetapi karena dia adalah anak yang rajin dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Yang demikian tidak masalah. Seperti seorang bapak yang berkata kepada anak-anaknya dengan suatu perumpamaan, “Tidak, semoga Allah memberkahi kalian semua! Sesungguhnya kalian semua tidak menyamai nilai anakku fulan (yang rajin ibadah itu)!” Atau orang tua memberikan perhatian kepada salah seorang anaknya dan tidak kepada saudara-saudaranya yang lain. Padahal metode yang positif mengharuskan orang tua agar memuji sifat-sifat mulia yang ada pada anaknya yang soleh tanpa menyebutkan namanya, maka yang demikian adalah lebih baik. Hingga, jika terpaksa harus menyebut namanya, pun demikian adalah baik. Seperti seorang bapak yang berkata: “Sesungguhnya aku percaya bahwa kalian akan mengikuti sifat-sifat yang mulia dari saudara kalian (fulan). Tidak perlu diragukan wahai anak-anakku bahwa kalian memiliki kemuliaan jika kalian membantu saudara-saudara kalian yang lain hingga maju dan sukses!”

Keempat, jelaskan urgensi/pentingnya persaudaraan antara kakak dengan adik atau sebaliknya. Jika anda ingin cinta kasih bersemi di antara anak-anak anda, hendaklah anda menjelaskan urgensi seorang kakak bagi adiknya atau sebaliknya, dan anda menjelaskan manfaat yang banyak dari kebaikan yang dilakukan seseorang kepada saudaranya.

Dalam masalah ini, ada beberapa hadits yang bisa anda jelaskan kepada anak-anak anda, mengenai urgensi persaudaraan, yang bisa diterima seseorang dari saudaranya. Yaitu seseorang adalah pembantu kepercayaan bagi saudaranya. Hal ini nampak pada kisah Musa ‘alayhissalam ketika dia berkata:
وَٱجعَل لِّى وَزِيرًا مِّن أَهلِى
هَـٰرُونَ أَخِى
ٱشدُد بِهِۦ أَزرِى
“Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari
keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikankanlah dia sekutu dalam urusanku.” (QS. Thaha: 29-32).

Dengan metode seperti ini akan dapat menumbuhkan perasaan anak anda akan urgensi persaudaraan, untuk kemudian menguatkan tali persaudaraan dan cinta kasih antara mereka.

Kelima, siramilah pohon cinta kasih di antara mereka. Akan tetapi bagaimanakah melakukan yang demikian?

Keenam, hilangkanlah kezhaliman dan iri dengki yang terjadi di antara mereka. Lakukanlah dengan mencari sebab dan pemicu perkelahian, perselisihan dan iri dengki antara anak-anak. Kemudian cabut bibit-bibit perselisihan dan tanamkan bibit-bibit cinta kasih dan persaudaraan. Di antara sebab-sebab perkelahian adalah permusuhan, kezhaliman dan iri dengki. Kalau sekiranya ada kebencian di antara anak-anak anda, mereka terbiasa berlaku aniaya, dan di dada mereka ada iri dengki, maka tidak aneh jika anda mendapati tidak ada cinta kasih di antara mereka.

Contoh, terkadang dalam suatu keluarga kita mendapati seorang kakak yang semena-mena kepada saudara-saudaranya. Dia memutuskan suatu permasalahan yang ada diantara saudara-saudaranya dengan keras dan tidak ada kasih sayang, seolah-olah dia adalah seorang pemimpin yang zhalim. Di sini dibutuhkan peran seorang bapak untuk menghilangkan masalah dan kezhaliman. Jika tidak, maka setiap anak akan mengikuti model kakaknya. Kondisi yang panas ini akan menciptakan setiap individu dalam keluarga tersebut menjadi seperti hewan buas, yang besar menindas yang kecil, kakak menindas adiknya, begitu seterusnya.

Ketujuh, jadikanlah komunikasi dan saling pengertian sebagai cara untuk menyelesaikan semua permasalahan. Kebanyakan yang terjadi adalah dua orang anak yang berselisih memperebutkan suatu mainan. Jika salah satunya mulai menarik mainan. maka orang tua agar segera mendamaikan keduanya dan meminta keridhaan salah seorang anaknya. Misalnya orang tua berkata: “Setiap anak boleh bermain dengan mainan ini pada waktu tertentu dan yang lainnya pada waktu yang lain!”

Apa yang harus anda lakukan ketika terjadi perselisihan antara anak-anak anda?
1. Jika salah seorang dari anak-anak anda hendak menyakiti saudaranya, maka hendaklah anda segera mencegahnya!
2. Setelah situasi agak tenang, gunakan sedikit waktu untuk mendengarkan mengapa pertengkaran atau konflik mulai terjadi!
3. Jika tidak ada kekerasan fisik dalam pertengkaran atau konflik, maka tidak perlu segera campur tangan (melerai konflik), sebab anak-anak membutuhkan konflik semacam ini agar mereka belajar banyak hal dan mengoptimalkan kekuatan mereka.
4. Ingat, bahwa konflik antar anak tidak selamanya membahayakan dan buruk sebagaimana yang nampak pada orang dewasa!
5. Berusahalah untuk tidak berpihak kepada salah seorang anak dan melupakan yang lain. Tumbuhkan dalam diri sang kakak perasaan bahwa dia mempunyai kewajiban untuk menyayangi adiknya. Mintalah kepadanya untuk memberitahukan segera kepada anda jika dia telah berusaha bersabar (mengalah) namun belum bisa menguasai dirinya!
6. Bantulah sang adik untuk menghormati kakaknya dan jangan memarahi sang kakak karena ia akan dendam!
7. Jangan terburu dalam memberikan sangsi karena yang demikian akan menumbuhkan jiwa yang keras dan pendendam.
8. Jangan membandingkan antara yang satu dengan yang lain, semisal anda berkata: “Sesungguhnya saudaramu lebih baik darimu ketika seusiamu!”
9. Cara terbaik untuk meredam pertengkaran atau konflik adalah anda segera mengarahkan anak anda kepada pekerjaan yang positif seperti membantu orang lain, atau mengajaknya membantu ibunya atau yang semisalnya.
10. Seorang ibu hendaklah sebisa mungkin tetap berusaha diam ketika anaknya marah atau berselisih dengan saudaranya.
11. Kedua orang tua hendaklah menjadi teladan yang baik sehingga tidak bertengkar terhadap masalah-masalah yang sepele di hadapan anak-anaknya.
12. Jangan biarkan anak anda merasakan nikmatnya kemenangan dalam memenuhi keinginannya tetapi dengan mengorbankan saudaranya.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: