BEBERAPA KEKHUSUSAN NABI SHALLALLAAHU ‘ALAIHI WASALLAM

Oleh: Sholeh bin Humaid

Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam telah dianugerahi berbagai macam kekhususan yang tidak dianugerahkan kepada selain dirinya, hal itu sebagai bentuk penghormatan dan kemuliaan bagi beliau pribadi. Namun tidak menutup kemungkinan para nabi yang lain juga dianugerahi sebagian dari beberapa kekhususan itu.

Pertama: Sedekah.

Diharamkan bagi Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk memakan harta pemberian dalam bentuk sedekah, ini berdasarkan sabda beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam yang menyatakan:

إِنَّ الصَّدَقَةَ لاَ تَحِلُّ لِمُحَمَّدٍ وَلاَ لِآلِ مُحَمَّدٍ، إِنَّمَا هِيَ أَوْسَاخُ النَّاسِ» (أخرجه مسلم).

Artinya: “Sesungguhnya harta sedekah itu tidak halal bagi Muhammad dan tidak pula bagi keluarga Muhammad, sebab ia adalah kotoran manusia” (Dikeluarkan oleh Muslim).

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ: “أَنَّ رَسُوْلَ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ كَانَ يَأْكُلُ الْهَدِيَّةَ وَلاَ يَأْكُلُ الصَّدَقَةَ” (أخرجه مسلم)

Artinya: Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu: “Bahwasanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam memakan hadiah dan tidak memakan sedekah” (Dikeluarkan oleh Muslim).

Nash dari hadits-hadits di atas bersifat umum, ia tidak membedakan antara sedekah wajib atau sukarela, keduanya hukumnya haram bagi Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan keluarganya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata: “Ijma’ para ulama telah menukil atas demikian itu, di antaranya adalah Al-Imam al-Khotthobiy”.

Sedangkan hikmah diharamkannya sedekah atas Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah untuk menjaga dan membersihkan kedudukan beliau yang mulia dari kotoran harta manusia. Dan adapun dilibatkannya para keluarga beliau sebab mereka ber-intisab (dihubungkan) dengan beliau dan oleh karena mereka mendapatkan kemuliaan menjadi keluarga beliau.

Kedua: Menahan wanita yang tidak mau menjadi istri beliau.

Dan di antara kekhususan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah bahwasanya diharamkan bagi beliau untuk menahan/tidak menceraikan istrinya yang menginginkan bercerai darinya. Hal ini berbeda dengan umatnya, di mana jika salah seorang dari istri mereka (umatnya) menghendaki untuk bercerai maka suaminya tidak wajib menceraikannya.

Dan bukti konkrit dari kekhususan ini adalah hadits yang terdapat dalam Shohih Al-Bukhariy dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha: “Bahwasanya putri Al-Jaun pada saat ia berada pada malam pertamanya dan ketika Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam hendak mendekatinya, maka tiba-tiba ia berkata: ‘Aku berlindung kepada Allah dari dirimu’, maka beliau berkata kepadanya: ‘Kamu telah berlindung dengan Yang Maha Agung, kalau begitu pulanglah ke rumah keluargamu (dicerai)’.”

Ibnul Mulqin Rahimahullah berkata tentang hadits ini: “Dan dapat dipahami dari apa yang telah kami sebutkan sebelumnya, bahwasanya telah diharamkan bagi Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk menikahi setiap wanita yang tidak mau menjadi istrinya”.

Ketiga: Melepas kembali baju perang yang telah beliau pakai.

Di antara hal hal yang diharamkan atas Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam begitu juga para nabi sebelumnya adalah melepaskan baju perang sesudah beliau bertekad untuk berjihad di jalan Allah Ta’ala hingga beliau bertemu musuh dan memeranginya.

Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu: Bahwasanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda pada saat perang Uhud:

إنَّهُ لَيْسَ لِنَبِيٍّ إذَا لَبِسَ لأمَتَهُ أَنْ يَضَعَهَا حَتىَّ يُقَاتِلَ» (أخرجه أحمد في مسنده، وأصل القصة في البخاري ومسلم)

Artinya: “Sesungguhnya tidaklah bagi seorang nabi jika ia telah memakai baju perangnya untuk kemudian menanggalkannya hingga ia berperang” (Dikeluarkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya, dan sumber hadits ini ada dalam Shohih Al-Bukhariy dan Shohih Muslim).

Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah berkata: “Telah berkata mayoritas Syaikh kami: “Hal ini telah diwajibkan atas beliau, dan diharamkan atas beliau sehingga beliau berperang”.

Keempat: Berkhianat dengan mata.

Khianat mata adalah kedipan mata untuk memberikan isyarat dalam melakukan sesuatu yang mubah, dalam konteksnya seperti membunuh atau memukul. Dan ini tidak diharamkan kepada selain Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam kecuali pada hal-hal yang memang dilarang oleh Agama. Al-Khotthobiy Rahimahullah berkata: “Khianat mata adalah menyembunyikan sesuatu dalam hatinya selain apa yang ia tampakkan kepada manusia, maka jika ia menahan lisannya namun ia memberikan isyarat dengan matanya untuk melakukan sesuatu maka itu termasuk perbuatan khianat, lalu oleh karena khianat itu muncul dari matanya maka ia disebut khoinataul a’yun (khianat mata)”.

Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak pernah memberikan isyarat dengan matanya atas sesuatu yang berlawanan dengan perkataannya.

Sebagai dasar atas hal ini adalah kisah Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh, di mana Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam telah memaafkannya dari hukum qishos pada waktu penaklukan kota Mekkah, hanya saja ia bersembunyi di rumah Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu saudara sepersuannya. Maka pada saat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam mengajak manusia untuk berbaiat, maka Utsman Radhiyallahu ‘anhu datang membawanya lalu menghadapkannya kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, sambil berkata: “Wahai Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam baiatlah Abdullah”, lalu beliau mengangkat kepalanya, dan melihat kepadanya sebanyak tiga kali, namun demikian beliau enggan untuk membaiatnya. Maka akhirnya beliau membaiatnya setelah tiga kali, lalu beliau menemui para Sahabatnya dan berkata: “Adakah di antara kalian seorang yang jujur dan lurus kemudian ia bangkit menuju ke orang ini di mana ia telah melihatku bahwa aku tidak mau membaiatnya kemudian membunuhnya?” Lalu mereka berkata: “Kami tidak tahu apa yang ada dalam hatimu wahai Rasulullah! Tidakkah engkau berkenan memberi isyarat dengan matamu?” Beliau berkata: “Sesungguhnya tidak pantas bagi seorang nabi untuk memiliki mata yang khianat” (Dikeluarkan oleh Abu Daud).

Kelima: Belajar menulis.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا كُنتَ تَتۡلُواْ مِن قَبۡلِهِۦ مِن كِتَـٰبٍ۬ وَلَا تَخُطُّهُ ۥ بِيَمِينِكَ‌ۖ إِذً۬ا لَّٱرۡتَابَ ٱلۡمُبۡطِلُونَ

Artinya: “Dan kamu (Muhammad) tidak pernah membaca sebelumnya (Al-Quran) sesuatu kitab pun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu; Andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari-(mu)” (QS. Al-Ankabut: 48).

Dan ini dibuktikan oleh kehidupan beliau sebelum diturunkan kepadanya Al-Qur’an, di mana beliau seorang yang dikenal dengan ummiy atau orang yang tidak bisa membaca dan menulis. Dan kondisi ini sebetulnya sebagai salah satu dari tanda kenabiannya agar sebagian orang-orang bodoh tidak ragu kemudian mengatakan sebetulnya Muhammad itu telah menulis Al-Qur’an dari pengalamannya dalam membaca kitab-kitab para nabi sebelumnya.

Keenam: Belajar syair.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا عَلَّمۡنَـٰهُ ٱلشِّعۡرَ وَمَا يَنۢبَغِى لَهُ ۥۤ‌ۚ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرٌ۬ وَقُرۡءَانٌ۬ مُّبِينٌ۬

Artinya: “Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al-Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan” (QS. Yasin: 69).

Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam semasa hidupnya, tepatnya sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul, orang-orang Arab tidak mengenalnya sebagai seorang ahli syair, kenapa? Karena Allah Ta’ala ingin menjadikan kondisi ini sebagai salah satu bukti dari kenabiannya, sehingga tidak ada orang yang menuduhnya bahwa pantas saja Al-Qur’an itu kuat dalam balaghah-nya serta memiliki estetika yang tinggi sebab Muhammad seorang yang piawai dalam bersyair.

Bukti lain bahwa Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam bukan seorang penyair adalah pada saat orang-orang Quraisy berkumpul untuk menemukan sebutan yang tepat bagi beliau agar orang-orang Arab Madinah yang datang berhaji pada musim haji tidak terpengaruh oleh dakwahnya. Maka sebagian mereka mengusulkan: “Kita sebut saja ia seorang penyair”. Maka sebagian yang lainnya menjawab: “Demi Allah tuduhan kalian akan didustakan oleh seluruh orang Arab sebab mereka tahu betul apa itu syair beserta macam-macamnya, dan demi Allah perkataannya (Al-Qur’an) sedikit pun tidak menyerupai syair karena ia memang bukan syair!”

Wallohu Ta’ala A’lam!

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: