Bekerja Adalah Ibadah

Apa keshahihan hadits ‘Bekerja adalah Ibadah’, dan bagaimana serta kapan bekerja itu sebagai ibadah?
Abdurrahim, Jakarta

Jawab:
Sesungguhnya hadits
الْعَمَلُ عِبَادَةٌ
‘Bekerja adalah ibadah’, atau
الْعَمَلُ كَالْعِبَادَةِ
‘Bekerja seperti ibadah’ adalah hadits yang tidak ada asalnya di dalam kitab-kitab hadits, maka tidak boleh menisbatkanya kepada Nabi Shallallahu ‘alayhi wasallam. Dan barangkali sandaran ucapan ini adalah apa yang diedarkan oleh orang-orang awam:

أَنَّ رَجُلاً كَانَ يَتَعَبَّدُ فِي الْمَسْجِدِ لَيْلَ نَهَارٍ وَلَهُ أَخٌ يُنْفِقُ عَلَيْهِ ، فَرَآهُ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَهُ : مَنْ يُنْفِقُ عَلَيْكَ ؟ قَالَ : أَخِيْ . قَالَ : أَخُوْكَ أَعْبَدُ مِنْكَ .

Bahwa ada seorang laki-laki beribadah di dalam masjid siang malam, dan dia memiliki saudara yang menafkahinya. Lalu Nabi Shallallahu ‘alayhi wasallam melihatnya seraya berkata kepadanya, ‘Siapakah yang menafkahimu?’ Maka dia menjawab, ‘Saudaraku.’ Maka beliau Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda, ‘Saudaramu lebih ahli ibadah darimu.’ Dan hadits ini adalah hadits batil yang tidak ada asalnya.

Bekerja adalah mubah, seperti perniagaan dan perindustrian… dan semacamnya. Bekerja akan menjadi ibadah jika seseorang meniatkannya dengan niat yang baik. Seperti niat menjaga dirinya dari meminta-minta kepada manusia. Atau meniatkan diri untuk menafkahi keluarganya, bershadaqh kepada orang-orang yang membutuhkan, menyambung Rahim, serta memberikan manfaat kepada kaum muslimin dengan pekerjaan ini, dan semacamnya, dari berbagai niat baik yang dibalas atasnya. Akan tetapi dengan syarat, pekerjaan itu tidak menyibukkannya dari apa yang diwajibkan oleh Allah Ta’ala atasnya. Seperti shalat, zakat, dan puasa. Allah Ta’ala berfirman:

رِجَالٌ۬ لَّا تُلۡهِيہِمۡ تِجَـٰرَةٌ۬ وَلَا بَيۡعٌ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِ وَإِقَامِ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءِ ٱلزَّكَوٰةِ‌ۙ يَخَافُونَ يَوۡمً۬ا تَتَقَلَّبُ فِيهِ ٱلۡقُلُوبُ وَٱلۡأَبۡصَـٰرُ

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan salat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (QS. An-Nur: 37)

wallahu a’lam

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: