BUNUH DIRI DAN TAKDIR

Assalaamu’alaikum, ana akhukum fillah, ana mau nanya, apa orang yang bunuh diri sudah menyalahi taqdir? Dan apakah matinya dalam keadaan bunuh diri sudah tertulis di Lauhil Mahfuzh? Mohon penjelasannya ya Syaikh. Afwan kalau ada kata-kata yang salah.

Taqdir al-Bugisi

Jawab:
Sesungguhnya tidak ada satu jiwapun kecuali Allah Ta’ala telah menentukan baginya ajalnya. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ۬‌ۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ لَا يَسۡتَأۡخِرُونَ سَاعَةً۬‌ۖ وَلَا يَسۡتَقۡدِمُونَ
“Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. Al-A’raf: 34)

Maka suatu jiwa tidak akan mati hingga telah sempurna rizqi dan ajalnya. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam dalam beberapa hadits, dan di antaranya adalah yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya.

Oleh karena itu, orang yang bunuh diri telah habis ajalnya, dengan sebab yang telah mendahuluinya. Dan ini tidak berarti bahwa tatkala ajalnya yang telah ditentukan telah habis dia tidak akan disiksa dengan apa yang telah ditentukan sebagai taqdir atasnya.

Yang demikian ini karena Allah Ta’ala telah menjadikan dalam diri setiap hamba-Nya kemampuan dan keinginan yang memungkinkan untuk berbuat apa yang dia kehendaki dan meninggalkan apa yang dia kehendaki. Ini adalah perkara yang diterima secara bulat oleh orang yang berakal. Maka jika dia maju kepada sebuah perkara yang dilarang secara syar’i bersamaan dengan kemampuannya untuk meninggalkannya, dia telah menyelisihi perintah Allah Ta’ala dan keinginan Allah secara syar’i. Maka siapa yang menyelisihi perkara ini, dalam keadaan bebas memilih dan ikhtiyar maka dia berhak untuk dihukum.

Apa yang telah ditentukan oleh Allah Ta’ala sebagai taqdir, tidak dibenarkan dijadikan hujjah untuk yang menyelisihi perintah-Nya secara syar’i. Bahkan tidak seorangpun di dunia ini yang mau menerima hujjah dengan taqdir atas dirinya sendiri.

Selain itu apa yang dikehendaki oleh Allah sebagai taqdir adalah termasuk perkara ghaib yang tidak diketahui kecuali setelah terjadi, maka bagaimana mungkin ia menjadikannya sebagai alasan untuk berbuat sesuatu. Jika ia menggunakan takdir sebagai alasan untuk menyelisihi syari’at sebagaimana dalam masalah bunuh diri, maka pelakunya berhak mendapatkan hukuman sebagai akibat dari perbuatannya yang melanggar syari’at. Wallahu a’lam.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: