Dampak Hawa Nafsu dalam Interpretasi Hukum Syari’at

Sesungguhnya Allah telah mengutus semua Nabi dan Rasul-Nya agar menjadi penuntun kepada kebaikan, maka barangsiapa yang menempuh jalan yang bukan jalan mereka niscaya ia pasti tersesat dari jalan yang telah diridhai Allah, sebagaimana firman-Nya:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غْريَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلّهِِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا١١٥

Artinya: “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” (Q.S. An-Nisaa: 115).

Demikian itu dikarenakan agama Islam termasuk manhajul hayah atau jalan hidup, oleh karenanya ia tidak boleh direalisasikan kecuali menurut aturan-aturan Allah, dan akal harus tunduk kepadanya serta tidak boleh menentangnya dengan alasan apapun baik itu karena kepentingan hawa nafsu atau kepentingan-kepentingan lainnya.

Dan menentang syari’at demi mengikuti hawa nafsu merupakan tindakan tercela menurut agama ataupun akal, dengan alasan sebagai berikut:

Pertama: Tindakan mengikuti hawa nafsu termasuk sikap penyelewengan dari agama Islam, sekaligus mengakui ajaran selain ajaran agama Islam, walaupun tidak secara keseluruhan atau hanya dalam beberapa perkara saja, sebab mengikuti hawa nafsu merupakan kunci utama dari segala perbuatan maksiat hingga menjerumuskannya ke dalam dosa syirik.

Kedua: Bahwa sikap mengikuti hawa nafsu termasuk sikap korektif terhadap agama, padahal Allah telah  menyempurnakan agama ini sehingga tidak menerima penambahan dalam bentuk apapun, Allah berfirman:

َالْيَوْمَ أكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأتْمَمْتُعَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا

Artinya: “… Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu …” (Q.S. Al-Maidah: 3).

Dan lagipula sikap ini termasuk jalan kepada perbuatan bid’ah dan perpecahan. Ibnul Qayyim berkata: “Pada umumnya hawa nafsu menyeru kepada kesenangan semata tanpa memikirkan akibat yang ditimbulkannya, dan memenuhi kebutuhan syahwat secara instan walaupun berakibat kesusahan secara instan pula, serta dapat menghilangkan kebahagiaan di masa yang akan datang, adapun orang yang sehat akalnya pasti menahan dirinya dari kesenangan yang berujung kepada kesusahan dan dari syahwat yang berujung kepada penyesalan, maka penjelasan ini kiranya sudah cukup memuji orang yang berakal dan menghina orang yang mengikuti hawa nafsunya. Dan telah diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas bahwasanya ia berkata:

مَا ذَكَرَ اللهُ عَُزَّ وَجَلَّ اَلْهَوَى فِي مَوْضِعٍ مِنْكِتَابِهِ إ ذَمَّه

artinya: ‘Tidaklah Allah  menyebutkan kata hawa nafsu dalam beberapa tempat dari kitab-Nya kecuali Ia mencelanya.’ Dan As-Sya’biy berkata: ‘Sebetulnya ia tidak dinamakan al-Hawa melainkan karena ia dapat menjerumuskan pelakunya’.” (Kitab Zammul Hawa karya Ibnul Jauziy: Hal. 18).

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: