Dinikahi Laki-Laki Musyrik

Assalamu’alaikum, redaktur majalah Qiblati dan Syaikh Mamduh yang kami hormati, semoga Allah merahmati Anda. Kami punya masalah yang sangat perlu untuk diberikan pencerahan karena masalah ini membebani hati kami, sehingga berdampak macet pada komunikasi dan silaturahim. Permasalahannya adalah, saudari sepupu kami kawin dengan laki-laki kafir musyrik sampai beranak pinak. Prosesai pernikahannya ala musyrik (hindu) waktu itu kami masih anak-anak. Pernikahan ini tidak direstui oleh orang tua. Selama perkawinan saudari kami aktif melaksanakan ibadah shalat dan puasa disamping itu ikut juga acara ritual-ritual suaminya. Laki-laki musyrik tersebut berjanji akan masuk Islam bila ibunya meninggal dunia. Tapi tidak dilakukannya. Saudari kami ingin cerai tapi mengingat anaknya banyak, tidak jadi dilakukan. Pertanyaan kami: 1). sahkah perkawinan itu dalam tinjauan syari’at? 2). apakah dengan perkawinan ini saudari kami lantas keluar dari Islam? 3). apakah ada faidah dari ibadah shalat puasa yang dilakukanya? 4). bagaimana status persaudaraan kami dalam pandangan Islam? 5). bagaimana seharusnya kami bersikap kepada mereka, kami mohon nasihat syaikh via Majalah kesayangan kami Qiblati. Barakallahu fikum. Abdullah Aikmel, Lotim, NTB

Jawab:
Wa’alaikumussalah warahmatullah. Hayyakallah, selamat datang di majalah Qiblati.
Pertama, saya sangat berterima kasih atas perhatian Anda terhadap kerabat Anda, mudah-mudahan Allah Ta’ala membalas Anda dengan kebaikan.
Setelah saya membaca surat Anda, saya katakana, “la haula wala quwwata illa billah.” Saya berharap dari seluruh wanita yang lalai agar mengambil pelajaran dari permasalahan ini.
Tidak halal bagi seorang muslimah menikah dengan selain muslim, dari agama-agama lain, baik Yahudi, Nasrani, maupun orang-orang musyrik lain, seperti orang Hindu, Budha, atau Majusi.
Demikian pula tidak halal bagi seorang wanita muslimah menikah dengan orang yang mengaku muslim sementara dia adalah orang komunis, atau orang yang beristighatsah (meminta pertolongan) kepada Ali Radhiyallahu ‘anhu, atau Husain Radhiyallahu ‘anhu, atau juga Fathimah Radhiyallahu ‘anha.

Dalil akan hal itu adalah firman Allah Ta’ala:

وَلَا تَنكِحُوا۟ الْمُشْرِكٰتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ وَلَا تُنكِحُوا۟ الْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا۟ ۚ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ۗ أُو۟لٰٓئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ وَاللَّـهُ يَدْعُوٓا۟ إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِۦ ۖ وَيُبَيِّنُ ءَايٰتِهِۦ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ :٢٢١

… dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (QS. Al-Baqarah (2): 221)

Imam at-Thabari Rahimahullah berkata dalam tafsir ayat tersebut, ‘Maksudnya, bahwasannya Allah Ta’ala telah mengharamkan atas wanita-wanita mukminah untuk menikah dengan orang-orang musyrik, siapapun orang musyrik itu, dari bentuk kesyirikan yang manapun. Maka janganlah kalian, wahai orang-orang mukmin menikahkan sebagian dari mereka (dengan wanita-wanita kalian), karena itu adalah haram atas kalian. Jikalau kalian menikahkan wanita-wanita kalian itu dengan seorang budak mukmin yang membenarkan Allah, Rasul-Nya, dan apa yang dibawa oleh beliau Shallallahu ‘alayhi wasallam dari sisi Allah Ta’ala itu lebih baik bagi kalian daripada kalian menikahkan mereka dengan seorang musyrik merdeka, sekalipun mulia nasab dan asalnya, dan sekalipun kedudukan dan nasabnya membuat kalian takjub.’
Sesungguhnya pernikahan wanita tersebut batil, dan akad nikahnya bukanlah akad pernikahan. Maka dia, selama bertahun-tahun ini tergolong pezina, dan bukan wanita yang telah menikah. Setiap anak yang dilahirkan untuknya dari keturunannya adalah anak-anak zina. Karena pernikahan ini asalnya tidak diakui antara seorang muslimah dengan musyrik. Dan ini adalah kesepakatan para ulama.

Sesungguhnya wanita ini, mudah-mudahan Allah memberinya petunjuk, tidak hanya sekedar menentang kedua orang tuanya, tetapi juga menentang Allah Ta’ala, serta menolak hukum dan syariatnya dengan terus menerus dan sengaja. Dia kedepankan hawa nafsunya atas perintah Allah, dan ketaatan kepada ar-Rahman. Maka Allah pun menghukumnya dengan seburuk-buruk hukuman, yaitu dengan melahirkan anak-anak dari cara haram, dan mereka adalah anak-anak zina. Mereka akan tumbuh besar, jika Allah menetapkan mereka menjadi orang-orang muslim, maka nanti saat dewasa mereka akan tahu bahwa mereka adalah anak-anak zina, dan mereka adalah korban ibu ini yang telah menimpakan aib kepada mereka hingga mereka mati. Bisa jadi mereka akan berdo’a atas ibunya ini. Ini jika mereka menjadi muslim, jika tidak, barangkali mereka akan berada di atas agama bapak mereka, dan pada saat itu, Allah Ta’alaakan menghukumnya karena menjadikan keturunannya sebagai orang-orang yang kufur kepada Allah dan Rasul-Nya.

Sesungguhnya wanita tersebut, telah hilang darinya bahwasanya syari’at itu adalah apa yang disyariatkan Allah, bukan apa yang disyari’atkan oleh akal dan syahwatnya.

Sekalipun demikian, wanita tersebut tidak keluar dari Islam dengan pernikahannya bersama orang musyrik tersebut, kecuali jika dia menentang dan berkeyakinan bahwa tidak mengapa pernikahannya dengan suami musyrik dengan disertai pengetahuannya terhadap dalil-dalil dari al-Qur`an dan sunnah Nabi. Dari sela-sela pertanyaan Anda jelas bagi saya bahwa dia mengakui kesalahannya sekalipun setelah terlambat. Yang saya maksud adalah setelah dia melahirkan anak-anak dari laki-laki musyrik tersebut. Wala haula wala quwwata illa billah.

Ada pun berkenaan dengan keseluruhan ibadahnya, seperti shalat, puasa, shadaqah dan lainnya, maka kita memohon kepada Allah agar diterima. Karena dia tidak keluar dari Islam dengan pernikahannya dengan laki-laki musyrik tersebut. Selanjutnya, kekerabatan Anda sekalian terhadap dia tetap ada, terutama jika dia berniat bebas dari suami musyriknya. Di sini, wajib bagi Anda untuk membantunya bebas darinya dengan cara apa pun. Wajib bagi dia untuk mengetahui bahwa segala hubungan yang dilakukan antara dia dengan suaminya adalah perzinaan. Oleh karena itu, wajib baginya untuk tidak menyerahkan dirinya kepadanya, karena dia adalah haram baginya.

Hubungan Anda wajib hanya dengannya, tidak dengan suaminya, agar hal ini tidak menjadi persetujuan dan keridhaan Anda atas kejahatan, dan penentangan, serta pernikahan yang batil ini.

Dan wajib bagi wanita tersebut untuk mengetahui bahwa dia tidak mewarisi dari suaminya, tidak juga sebaliknya. Sebagaimana wajib baginya untuk mengetahui bahwa dia berada dalam ujian besar. Maka wajib baginya untuk menyelamatkan diri dari api neraka. Karena tetap tinggalnya dia di bawah kekuasaan laki-laki itu, maka itu adalah bagian dari kerusakan agama dan dunia, serta penyia-nyiaan kedunya. Maka wajib baginya untuk meninggalkannya segera, hendaknya dia meninggalkan anak-anaknya jika dia (suaminya) menginginkan mereka. Jika dia (suaminya) tidak menginginkan mereka, maka hendaknya dia mengambil mereka, serta mendidik mereka di atas Islam, mudah-mudahan Allah Ta’alamengampuni kesalahan-kesalahannya.

Wajib baginya untuk bertaubat nasuha, serta menyesali atas apa yang telah berlalu. Wajib baginya untuk selalu tadharru’ kepada Allah Ta’ala dengan rahmat-Nya yang meliputi segala sesuatu agar Allah menghilangkan madharatnya, kecemasannya, dan menerima taubatnya.

Kami memohon kepada Allah Ta’ala agar mengampuninya, memberinya hidayah, serta memperbagusi akhir hidupnya.
Jawaban ini, adalah sebuah surat pelajaran bagi setiap gadis yang berfikir untuk menikah dengan seorang kafir, maka setiap orang yang berfikir seperti ini hendaknya bertakwa kepada Allah Ta’ala. Hasbunallahu wani’mal wakil, wala haula wala quwwata illa billahi.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: