DZULQARNAIN DAN TEMBOK YA’JUJ MA’JUJ, Sebuah Studi Analisis

Oleh: Muhammad Al-Amin as-Shinqithi

وَيَسۡـَٔلُونَكَ عَن ذِى ٱلۡقَرۡنَيۡنِ‌ۖ قُلۡ سَأَتۡلُواْ عَلَيۡكُم مِّنۡهُ ذِڪۡرًا
“Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulkarnain. Katakanlah: “Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya”. (QS. Al-Kahfi: 83)

Yang pasti orang-orang yang bertanya tersebut adalah orang-orang musyrik Quraisy. Telah diriwayatkan bahwa mereka bertanya kepada orang-orang Yahudi tentang beberapa pertanyaan yang jawabannya hanya diketahui oleh orang Yahudi, untuk menguji Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wasallam apakah beliau seorang Nabi atau bukan. Di antara pertanyaan tersebut adalah tentang Dzulqarnain.

Ini artinya bahwa Dzulqarnain bukanlah seorang Raja Yaman yang kejam yang memiliki dua tanduk. Sejarah raja-raja Yaman telah diketahui dan tertulis, sementara sejarah Dzulqarnain tidak pernah diketahui oleh bangsa Arab. Jika tidak demikian maka orang-orang Yahudi tidak akan berani menantang Nabi Shallallahu ‘alayhi wasallam untuk mengabarkan kepada mereka tentang kisah Dzulqarnain. Jika memang Dzulqarnain adalah termasuk raja-raja Yaman, maka bangsa Arab adalah bangsa yang lebih mengetahui tentangnya.

Hadits-hadits yang menyebutkan bahwa dia sezaman dengan Nabi Ibrahim ‘Alayhissalam semuanya palsu dan mungkar, serupa dengan dongeng. Dan seluruh riwayat tentang sebab turunnya ayat ini adalah dha’if, dan tidak shahih. Tidak ada yang benar sama sekali bahwa Dzulqarnain adalah Alexander (Iskandar al-Maqduni, Iskandar Agung dari Macedonia) dari bangsa Yunani. Dikarenakan Alexander tersebut adalah penyembah berhala yang suka menumpahkan darah. Sejarahnya telah tertulis secara rinci. Bahkan disebutkan penyimpangan sexualnya, termasuk pula hubungan haramnya dengan ibunya sendiri. Orang yang pertama kali datang dengan anggapan ini adalah seorang laki-laki tak dikenal dari ahli kitab yang menyatakan masuk Islam, kemudian Ibnu Ishhaq menukil cerita tersebut darinya.

Kemungkinan Dzulqarnain adalah seorang raja pada zaman kuno yang kita tidak mengetahuinya. Akan tetapi pertanyaan orang-orang Yahudi tersebut menunjukkan bahwa dia telah dikenal di tengah-tengah mereka. Jika kita merujuk kepada kitab-kitab mereka kita akan mendapati kitab Danial berbicara tentang cerita kenabian datangnya Dzulqarnain dan kekuasaannya di muka bumi. Qornain (dua tanduk) merupakan konotasi dari dua kerajaan Persia dan Meidia (Azerbaizan dan Iraq bagian utara). Jika ini benar, maka bersesuaian dengan raja Qurusy yang mengalahkan Babilonia dan mengizinkan orang-orang Yahudi untuk kembali ke al-Quds. Kerajaannya meluas dari Syam dan sebelah barat Turki hingga Balkh di bagian timur. Dikatakan pula bahwa kerajaannya sampai Qauqaz di bagian utara.

Kemudian dikatakan bahwa Kerajaan Qurusy adalah satu-satunya kerajaan yang diketahui sejarah kuno akan keadilannya. Dan kita mendapati dalam kita-kitab Yahudi bahwa Nabi ‘Uzair ‘Alayhissalam menyebutkan bahwa rajanya adalah seorang raja yang bertauhid, bertakwa dan wira`i (shalih, jauh dari keharaman dan syubhat). Zoroaster bukanlah agama keberhalaan (paganisme) di sepanjang masanya, tetapi penyimpangannya berlangsung secara bertahap sebagaimana halnya yang terjadi pada Yahudi dan Nasrani. Wallahu a’lam. Kerajaan Qurusy muncul pada tahun 549 SM, sementara kerajaan Babilonia runtuh karenanya pada tahun 539 SM.

Sudah kita sebutkan bahwa tidak ada satupun yang shahih dan marfu’ kepada Nabi Shallallahu ‘alayhi wasallam yang menetapkan pribadi Raja Dzulqarnain. Yang paling shahih adalah apa yang datang dalam hadits mauquf yang dikeluarkan oleh at-Thabari Rahimahullah dalam tafsirnya, dia berkata: “Aku mendengar Ali Radhiyallahu ‘anhu ditanya tentang Dzulqarnain, apakah dia adalah seorang Nabi? Maka Ali Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Dia adalah seorang hamba yang shalih, dia mencintai Allah, dan Allah mencintainya. Dia bersikap tulus kepada Allah (beriman, beramal shalih dan berdakwah), maka Allah pun membalas ketulusannya (memberikan pertolongan dan kemenangan kepadanya). Allah Ta’ala mengutus dia kepada kaumnya, kemudian mereka memukul dengan dua pukulan dikepalanya, maka dia disebut Dzulqarnain (yang memiliki dua tanduk) dan pada kalian hari ini ada yang semisalnya.”
Dan kita mendapatkan pada firman Allah Ta’ala:

حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ بَيۡنَ ٱلسَّدَّيۡنِ وَجَدَ مِن دُونِهِمَا قَوۡمً۬ا لَّا يَكَادُونَ يَفۡقَهُونَ قَوۡلاً۬

“Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan.” (QS. al-Kahfi: 93)

Bahwasanya dia mendapati di antara dua gunung tersebut suatu kaum yang hampir tidak bisa memahami bahasa selain bahasa mereka. Demikian pula penerjemah Dzulqarnain tidak mengetahui bahasa mereka. Maka hampir-hampir saja mereka tidak bisa saling memahamkan kecuali hanya dengan isyarat. Ini menunjukkan bahwa bahasa mereka bukan termasuk bahasa Indo Eropa (yang di antaranya adalah bahasa Persia), tidak juga termasuk bahasa Samiyah (termasuk di dalamnya adalah bahasa Aramiah), tidak juga termasuk bahasa Turki. Oleh karena itu Dzulqarnain tidak mengetahuinya, juga tidak seorangpun yang bersamanya. Sifat yang demikian bersesuaian dengan pegunungan Qauqaz di mana di sana kita mendapati pada hari ini sebuah kabilah terasing yang berbicara dengan bahasa yang tidak ada ikatannya dengan bahasa manapun. Hal ini menunjukkan keterasingan kabilah tersebut sejak zaman batu.

Allah Ta’ala berfirman:

قَالُواْ يَـٰذَا ٱلۡقَرۡنَيۡنِ إِنَّ يَأۡجُوجَ وَمَأۡجُوجَ مُفۡسِدُونَ فِى ٱلۡأَرۡضِ فَهَلۡ نَجۡعَلُ لَكَ خَرۡجًا عَلَىٰٓ أَن تَجۡعَلَ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَهُمۡ سَدًّ۬ا
“Mereka berkata: “Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?” (QS. al-Kahfi: 94)

Yang nampak bagi kita bahwa dia tidak memiliki kekuatan untuk memerangi Yajuj dan Majuj karena banyaknya jumlah mereka, maka dia memilih untuk membuat pembatas antara dua gunung yang akan menghalangi mereka dari berbuat kerusakan di muka bumi. Dan tidak mau mengambil upah dari mereka, akan tetapi meminta kepada kaum tersebut untuk membantunya.

Termasuk sesuatu yang jauh dari kebenaran jika tembok tersebut adalah tembok Cina. Sebab tembok Dzulqarnain terbuat dari besi dan tembaga yang diletakkan di antara dua gunung dan bukan terbuat dari batu dan tanah di antara laut dan daratan. Juga jauh dari kebenaran jika tembok tersebut adalah tembok antara Daghistan dan Azerbaijan pada kota Darband (باب الأبواب Babul Abwab,) sebagaimana disebutkan oleh banyak ahli sejarah. Sebab tembok tersebut dibangun belakangan pada zaman dinasti Sasaniyah, yang dibangun memanjang dari pegunungan ke lautan. Di samping itu ia tidak terbuat dari besi.

Adapun berita pengutusan khalifah al-Watsiq untuk menemukan tembok tersebut maka Ibnu Khardadzabah (300 H) adalah orang pertama kali yang meriwayatkan dari pemimpinnya sendiri. Al-Alusi berkata dalam Ruhul Ma’ani (16/42): “Para ahli sejarah yang terpercaya telah melemahkan khabar tersebut.” Dan menurutku, kabar tersebut adalah dusta adanya, karena kabar tersebut dinafikan oleh ayat, sebagaimana hal yang demikian tidak akan samar bagi orang yang menelitinya secara detil.

Yang benar menurutku adalah bahwa tembok tersebut ada pada celah Darial George pada Republik Georgia, bagian dari negara Soviet di pegunungan Kaukasus, di mana di sana dulu ada kabilah-kabilah liar yang buas menyerbu daerah-daerah di selatan Kaukasus, di timur Laut Hitam, dan di barat Laut Qozwin (Kaspia). Celah ini disebut oleh bangsa Arab sekarang dengan sebutan Bawwabah. Ini adalah hakikat yang sebenarnya bagi setiap orang yang ingin melihatnya; sebuah gunung yang tinggi menjulang, memanjang dari Laut Hitam hingga Laut Kaspia sepanjang 1200 km. Yaitu pegunungan yang menjulang tinggi yang susunannya sejenis, kecuali onggokan-onggokan besar yang terbuat dari besi murni yang dicampuri dengan tembaga murni di bendungan Darial.

Itulah celah tertutup yang dulu orang-orang liar (buas) tersebut menyerbunya. Kemudian mengenai berbagai perubahan alam maka tidaklah berpengaruh sama sekali terhadap tembok tersebut. Hanya saja bagian tubuh gunung yang terbuat dari batu dari kedua sisi tembok terlihat mulai rontok/rapuh karena faktor cuaca pada masa yang sangat panjang ini. Hingga akhirnya terjadilah kekosongan atau celah di antara batu-batu gunung dan tembok besi tembaga yang masih menjulang tinggi hingga sekarang. Dan tidak ada satu manusiapun yang mampu melubangi atau menaikinya. (Lihat: Mafahim Jughrofiah oleh DR. Abdul ‘Alim Khodir (229)). Bersamaan dengan apa yang telah aku sebutkan, perkara ini masih tetap sebuah penafsiran, kemungkinan dan dugaan sampai ada kebenaran yang didasarkan pada bukti nyata.

Maka jika dikatakan di manakah Ya’juj dan ma’juj pada hari ini? Bagaimana tembok itu menghalangi mereka? Dikarenakan suatu kaum yang akan meminum air Danau Thobariah (Laut Mati) hingga kering maka mereka haruslah berjumlah ratusan juta, maka bagaimanakah mereka bisa tersembunyi dari kita? Jawabannya adalah bahwa mereka adalah suatu kaum yang disamarkan oleh Allah Ta’ala atas kita sampai turunnya Nabi Isa ‘Alayhissalam di akhir zaman, kemudian Allah Ta’ala akan menampakkan mereka dengan kekuasaan-Nya Ta’ala.

Imam Turmudzi telah meriwayatkan dari Qotadah, Abu Rofi’ menceritakan kepada kami dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu secara marfu’ sebuah hadits yang di dalamnya diterangkan bahwa Ya’juj dan Ma’juj berusaha melubangi tembok tersebut setiap hari hingga jika mereka hampir bisa melihat seberkas sinar matahari, berkatalah orang yang ada di atasnya, “Pulanglah, kalian bisa menggalinya besok (tanpa mengucapkan Insya Allah)!” Maka kemudian mereka kembali, sementara tembok tersebut telah kembali keasalnya seperti semula, sekeras yang pernah ada. Hingga jika telah sampai masanya, mereka akan berkata, “Insya Allah”, maka mereka kembali dan mendapati tembok tersebut dalam keadaan seperti saat mereka tinggalkan, maka kemudian mereka menghancurkannya.” At-Turmudzi berkata: “Hadits hasan gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari sisi ini.” Dan dalam naskah Ibnu Katsir Rahimahullah tidak terdapat tahsinnya Tirmidzi. Maka hadits tersebut dha’if menurut at-Turmudzi. Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkata: “Di dalam pengangkatan hadits ini kepada Nabi Shallallahu ‘alayhi wasallam terdapat kelemahan.”

Kemudian dia menyebutkan bahwa Ka’b al-Ahbar juga telah menceritakan hal yang serupa. Kemudian Ibnu Katsir Rahimahullah berkata: “Ini sepertinya yang pas, boleh jadi Abu Hurairah mengutipnya dari Ka’b, dikarenakan dia banyak duduk bersamanya dan berbicara dengannya, hingga kemudian Ka’b membicarakannya dengan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Sehingga sebagian rawi menyangka bahwa hadits tersebut marfu’, kemudian merafa’kannya. Wallahu a’lam.

Termasuk hal yang menguatkan apa yang kami katakan –bahwa mereka tidak mungkin melubanginya dan tidak ada sesuatupun yang bisa melaluinya, dan termasuk pengingkaran terhadap marfu’nya hadits ini- adalah ….” Kemudian dia menyebutkan hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (8/104) dan Muslim (2880) dari Ummul Mukminin Zainab binti Jahsy secara marfu’: “Bangunlah Nabi Shallallahu ‘alayhi wasallam dari tidur beliau, sementara wajah beliau dalam keadaan memerah dan beliau bersabda:

« لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللّهُ. وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرَ قَدِ اقْتَرَبَ. فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذِهِ » وحَلَّقَ بإِصبَعهِ الإِبهامَ والتَّي تَليها – وَعَقَدَ سُفْيَانُ بِيَدِهِ عَشَرَةً – قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللّهِ أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ؟ قَالَ: «نَعَمْ، إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ »
“La ilaha illallahu, celaka bagi bangsa Arab dari sebuah keburukan yang telah mendekat. Pada hari ini tembok pembatas Ya’juj dan Ma’juj telah terbuka seperti ini.” Kemudian beliau melingkarkan ibu jari beliau dengan jari telunjuknya- Sufyan (seorang perawi) melingkarkan tangannya membentuk angka 10-. Kukatakan: “Wahai Rasulullah, apakah kami akan binasa sementara di tengah-tengah kami ada orang-orang shalih?” beliau menjawab: “Ya, jika banyak terjadi kekejian.”

Maka seandainya mereka membuka lebih banyak lagi lobang pada setiap hari, maka hadits ini tidaklah memiliki makna. Telah diriwayatkan banyak khurafat tentang mereka dalam kitab-kitab tafsir dan sejarah. Misalnya, mereka adalah dari keturunan Adam ‘Alayhissalam tanpa Hawa ‘alayhassalam, telinga-telinga mereka panjang, dan bahwa ada seseorang yang bisa bersembunyi dengan telinganya, dan berbagai khurafat lain semacam itu. Di mana khurafat-khurafat tersebut kembali kepada dongeng-dongeng Yahudi atau murni khayalan dari pada pembuat kisah. Oleh karena itu, kami berpaling dari khurafat-khurafat tersebut, dan kami tidak menyebutkan kecuali apa yang shahih insya Allah. Allah lah yang maha Menang dan tidak ada Rabb selain-Nya.

Kejanggalan:
1. Syekh tidak menyebut sebelumnya tentang penolakannya terhadap upaya pelobangan tembok, kemudian diakhir ia menyebut “seandainya mereka membuka ……… maka hadits ini tidak bermakna.”
2. atau karena itu untuk menolak hadits Turmudzi?! Bahwa Hadits turmudzi bertentangan dg hadits Bukhori ?!

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: