Fairuz dan Raja

Oleh: Mamduh Farhan al-Buhairi

Diceritakan, bahwa sebagian raja tengah melihat-lihat kesana kemari, sementara dia berada di istananya yang tertinggi, lalu dia melihat ada seorang wanita yang sangat cantik berada di atap sebuah rumah. Lalu dia bertanya kepada sebagian pembantunya:
“Istri siapakah wanita itu?”
Mereka menjawab: ‘Dia adalah istri pembantu anda, Fairuz.”

Sang raja pun turun dalam keadaan jatuh cinta terhadap wanita itu, lantas dia panggil pembantunya, Fairuz.
Dia berkata, “Wahai Fairuz!”
Fairuz menjawab, “Saya datang wahai tuan.”
“Ambil tulisan ini, lalu bawa ke negeri fulan, dan datangkan kepadaku jawabannya!” Perintah sang Raja.

Fairuz pun mengambil tulisan itu lalu pergi ke rumahnya lantas meletakkan tulisan itu di bawah bantal kemudian lupa. Esoknya, dia siapkan dirinya untuk melakukan perjalanan, lalu berpamitan kepada keluarganya untuk bepergian demi menjalankan keperluan sang raja, sementara dia tidak tahu rencana sang raja baginya.

Adapun sang raja, maka dia beranjak menuju rumah pembantunya tersebut, lalu mengetuk pintu dengan lembut.
Berkatalah istri Fairuz: “Siapakah di pintu?”
“Aku Sang Raja, tuan suamimu, ” jawab sang Raja.
Istri Fairuz pun membukakan pintu untuknya lantas berkata, ”Aku melihat tuan kami ada di sisi kami pada hari ini.”
Sang Raja menjawab, ”Aku datang untuk berziarah.”

Istri Fairuz berkata, ”Aku berlindung kepada Allah dari ziarah ini, dan aku tidak menganggap ada kebaikan pada ziarah ini.”
Sang Raja berkata, ”Celaka kamu, sesungguhnya aku adalah Raja, dan tuan suamimu.”

Istri Fairuz menjawab, ”Wahai raja, anda datangi tempat minum anjing anda, dan anda minum darinya?!”
Sang raja pun merasa malu karena ucapan wanita itu, lalu dia keluar meninggalkan wanita itu, dan melupakan sandalnya yang masih ada di dalam rumah.

Adapun Fairuz, maka tatkala dia keluar untuk keperluan tuannya, dan berjalan, dia merasa kehilangan tulisan sang Raja. Diapun teringat bahwa dia telah meletakkan di bawah bantalnya. Maka dia pun pulang menuju rumahnya. Kedatangannya bersamaan dengan setelah keluarnya sang raja dari rumahnya. Di dalam rumah dia mendapati sandal sang Raja. Akalnya melayang, dan tahu bahwa sang raja tidak mengutusnya dalam perjalana ini kecuali untuk suatu perkara yang akan dia lakukan.

Maka dia pun diam, tidak menampakkan satu ucapan pun. Lalu dia mengambil tulisan Raja, lalu menunaikan tugas dari sang raja, kemudian kembali kepada Raja. Sang Raja pun memberikan hadiah kepadanya 100 dinar, lantas dia pergi ke pasar membeli apa saja yang layak untuk wanita, kemudian menyiapkannya sebagai hadiah yang bagus, lantas mendatangi istrinya, mengucapkan salam kepadanya kemudian berkata: “Berdirilah, berziarahlah ke rumah ayahmu.”
Sang Istri berkata, ”Mengapa?”
Fairuz menjawab, ”Sesungguhnya sang Raja telah memberiku hadiah yang banyak, dan aku ingin engkau tampakkan hal itu kepada keluargamu.”

Sang istri pun berdiri dan beranjak menuju rumah ayahnya. Keluarganya pun senang dengan kedatangannya dan dengan apa yang dibawanya. Dia pun tinggal di rumah keluarganya selama sebulan, sementara Fairuz tidak bertanya tentang istrinya, tidak juga menyebut-nyebutnya.
Kemudian datanglah kepadanya saudara laki-laki istrinya, seraya berkata, ”Kamu mengabarkan kepada kami sebab marahmu, atau kita berhukum kepada sang Raja?”
Fairuz berkata, ”Setuju.”
Lantas keduanya berangkat menuju hakim yang pada saat itu dia duduk di sisi Sang Raja.

Berkatalah saudara istrinya, ”Tuan hakim, sesungguhnya aku menyewakan sebuah kebun yang temboknya baik, dengan sumber air jernih yang belimpah, serta pohon-pohon yang berbuah, kemudian dia memakan buahnya, lalu menghancurkan tembok dan merusak sumbernya.”
Sang hakim pun menoleh ke Fairus seraya berkata, ”Apa yang kamu katakan sekarang wahai Fairuz.”
Berkatalah Fairuz, ”Wahai hakim, aku telah menerima kebun itu, dan aku telah pasrahkan kepadanya kebun itu lebih bagus daripada sebelumnya.”
Berkatalah sang hakim kepada saudara istri Fairuz, ”Apakah dia telah menyerahkan kebun tersebut kepadamu sebagaimana keadaannya semula?”
Dia berkata, ”Ya, tapi aku ingin mengetahui penyebab dia mengembalikannya.”
Sang hakim berkata, ”Sekarang apa yang kamu katakan wahai Fairuz?”

Berkatalah Fairuz, ”Demi Allah, aku tidak mengembalikan kebun itu karena membencinya, akan tetapi suatu hari aku datang kepadanya, kemudian aku dapati ada bekas singa di dalamnya, maka aku khawatir singa tersebut telah mengkhianatiku, maka aku haramkan diriku untuk masuk ke dalam kebun sebagai penghormatan kepada singa tersebut.”
Pada saat itu sang raja dalam keadaan bersandar, kemudian dia duduk tegak seraya berkata, “Wahai anak muda, pulanglah menuju kebunmu dengan aman dan tenang. Demi Allah, singa itu telah memasuki kebun, dan tidak memberikan bekas apapun di dalamnya, tidak menyentuh satu daun pun, tidak juga satu buahmu, dan tidak juga sesuatu pun. Dia tidak diam di sana kecuali sebentar saja, kemudian dia keluar tanpa sesuatu pun. Demi Allah, singa itu tidak melihat satu kebun seperti kebunmu, dia tidak pernah melihat penjagaan tembok yang lebih kokoh menjaga pohonnya daripada kebunmu.”
Kemudian kembalilah Fairuz menuju rumahnya. Istrinya pun dikembalikan lagi kepadanya. Dan hakim serta orang lain tidak ada yang mengetahui apa yang telah terjadi.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *