HARI-HARI TERINDAH SEORANG MAHASISWI

Oleh Abu Halwa

Aku tuliskan kisah ini dengan sebenarnya kepada para pembaca Qiblati yang budiman sebagaimana yang aku ketahui secara langsung dari sumbernya, tentang keIslaman seorang wanita Nashrani yang masih muda. Seorang wanita yang dipenuhi rasa ingin tahu banyak hal, seorang wanita yang tulus menerima kebenaran, dan seorang wanita yang teguh dalam pendirian. Peristiwa ini sendiri terjadi pada tahun 2000 di salah satu universitas terkemuka di Kota Surabaya.

Kisah ini bermula ketika seseorang yang bernama Ahmad duduk bersama dengan beberapa mahasiswa laki-laki di ruang kelas sebuah fakultas kesehatan. Mereka duduk bersama untuk mendiskusikan perihal Agama Islam. Ini adalah kegiatan rutin yang dilakukan oleh para mahasiswa semester I dan terus berlanjut hingga semester II untuk lebih mendekatkan diri mereka kepada Allah ﷻ dan ajaran-Nya. Kegiatan ini dimaksudkan agar mereka mendapatkan keseimbangan ilmu. Tidak saja mempelajari dan mendapatkan ilmu kesehatan, namun juga mendapatkan ilmu agama walaupun masih sangat mendasar. Hal ini dimaksudkan dapat mengcounter pemikiran menyimpang yang banyak menyebar di kalangan mahasiswa, dan mengajak para mahasiswa untuk istiqamah dalam amalan sholih.

Suatu ketika, tatkala para mahasiswa tersebut mengisi waktu luangnya dengan berdiskusi tentang Agama Islam, tiba-tiba datang seorang mahasiswi yang meminta izin untuk bisa duduk bersama membicarakan tentang agama. Mereka mengenalnya bernama Desi. Dia adalah salah satu dari dua mahasiswi yang beragama Nasrani di angkatan mereka. Keinginannya untuk duduk di majelis mereka membuat mereka terkejut. Karena ini adalah forum mahasiswa laki-laki dan tidak ada seorang wanitapun dalam majelis tersebut. Demikian juga dengan agamanya yang berbeda dengan agama mereka, menjadikan mereka bertanya apa yang memotivasinya untuk ikut dalam majelis tersebut. Namun mereka berusaha untuk berbaik sangka, bisa jadi hal ini akan mendatangkan kebaikan baginya dan bagi mereka di kemudian hari.

Setelah duduk, mahasiswi inipun mulai angkat bicara. Dia bertanya kepada beberapa mahasiswa yang hadir di majelis tersebut : “Kita khan orang yang beragama, semua agama pasti mengajak kepada kebaikan dan kedamaian, tapi mengapa kita mesti saling berselisih dan berperang antara satu dengan yang lain yang mengakibatkan banyak manusia yang terbunuh?” Sontak saja pertanyaan ini membuat para mahasiswa yang hadir di majelis tersebut kaget. Jawaban apa yang harus disampaikan untuk menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh mahasiswi ini. Pertanyaan ini tentunya membuat majelis yang sebelumnya diisi dengan dialog yang hangat tiba-tiba terdiam beberapa saat.

Namun hal ini tidak berlangsung lama, sampai akhirnya Ahmad yang hadir di majelis tersebut dan beberapa hari sebelumnya sempat membaca buku yang pernah dibacanya pada tahun 1992, yang berjudul “Dialog Islam dan Kristen” yang ditulis oleh KH. Bahauddin Mudhori dari Madura, mulai angkat bicara. Dia berusaha menjelaskan dengan halus tentang apa yang seharusnya dilakukan seorang manusia berkenaan dengan agamanya. “Kita beragama bukan hanya untuk tujuan dunia, namun lebih jauh dari itu untuk mencapai tujuan akhirat yang lebih baik. Benar bukan?” Dengan nada bertanya ia berkata kepada para mahasiswa yang hadir dalam majelis tersebut. Maka semua mahasiswa yang hadir termasuk mahasiswi ini menjawab : “Benar!” Iapun bertanya kepada semua yang hadir, “Bisakah sebuah agama menjamin kehidupan akhirat bagi pemeluknya jika kitab suci yang ia gunakan tidak benar?” Maka mereka menjawab : “Tidak bisa!” Ia berkata lagi, “Bisakah sebuah agama menjamin kehidupan akhirat bagi pemeluknya jika kitab suci yang ia gunakan ternyata tidak suci karena adanya kontradiksi antara satu dengan yang lain?” Mereka yang hadir serentak menjawab, “Tidak bisa!” Akhirnya Ahmad berkata kepada mahasiswi ini, “Itulah yang menjadi masalah dalam agama Nasrani, bahwa kitab suci yang mereka gunakan sudah tidak suci karena adanya kontradiksi di sana sini!” Akhirnya mahasiswi inipun terkejut dengan penjelasan Ahmad. Ia tidak mengira bahwa kitab suci yang selama ini ia anggap baik ternyata mengandung kontradiksi antara satu dengan yang lain. Ia tidak menyangka bahwa apa yang senantiasa ia yakini baik selama ini ternyata mengandung banyak kerancuan!

Akhirnya mahasiswi inipun bertanya kepada Ahmad yang memberikan penjelasan ringkas tentang apa yang ia pertanyakan kepada majelis tersebut. “Bisakah kamu tunjukkan apa saja kontradiksi yang ada dalam kitab Injil jika kamu berpendapat demikian?” Maka Ahmad menjawab dengan bijak, “Saya bukanlah ahli kristologi, namun jika kamu mau membaca, akan aku tunjukkan sebuah buku yang bisa menuntunmu untuk mengetahui hakekat kitab sucimu!” Mahasiswi inipun bersedia untuk membaca buku tersebut. Ia bersedia mengetahui apa yang selama ini tidak ia ketahui untuk mengetahui hakekat kebenaran kitab sucinya.

Alhamdulillah! Ini adalah awal segala kebaikan yang nanti akan datang walaupun mereka harus menunggu dengan bersabar. Kesediaannya membaca buku yang mengungkap tabir kontradiksi dalam kitab sucinya adalah awal keterbukaan hatinya untuk menerima kebenaran. Subhanallah! Ini adalah hidayah dari-Nya kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Jika Allah menghendaki maka tidak ada satupun yang bisa menolaknya.

Keesokan harinya, Ahmad memenuhi janjinya dengan membawakan buku “Dialog Islam dan Kristen” yang ia pinjam dari teman satu kosnya. Karena buku tersebut juga merupakan buku pinjaman dari teman yang lain. Maka Ahmad meminjamkan buku tersebut untuk dibaca dan direnungi isinya selama satu minggu. Ia juga memberikan waktu kepada mahasiswi tersebut jika ia ingin mendiskusikan isinya, jika menurutnya ada yang tidak sesuai dengan apa yang ia pahami atau yang dipahami oleh agamanya.

Maka berlalulah beberapa hari mahasiswi ini membaca buku tersebut untuk mengetahui hakekat kitab suci yang selama ini sangat ia hormati dan ia muliakan. Namun tidak sampai seminggu ia datang menemui Ahmad meminta waktu untuk mendiskusikan isi dari buku tersebut. Ahmad memenuhi permintaannya dengan syarat diskusi tidak dilakukan berdua, tetapi harus ada seorang lagi, entah ia seorang mahasiswi temannya ataupun seorang mahasiswa yang menemani Ahmad. Ia menjelaskan kepada mahasiswi ini bahwa agama Islam melarang seorang wanita dan seorang lelaki bertemu kecuali di sana harus ada orang ketiga. Maka iapun menyanggupinya.

Maka berjalanlah diskusi seputar buku tersebut dan kitab suci agamanya, yaitu Injil. Dalam setiap kali diskusi Ahmad senantiasa mengajak salah seorang temannya yang bernama Hadi (seorang lelaki sederhana dan penuh dengan ketawadhuan dalam kesehariannya yang kelak akhirnya menikahi mahasiswi ini). Demikian juga dengan mahasiswi ini, Desi, dia juga senantiasa mengajak seorang mahasiswi temannya yang bernama Yudi (wanita sholihah yang berhijab dan sudah dianggap sebagai saudaranya sendiri) untuk menemaninya dalam diskusi yang dilakukan selama setahun setengah. Perlu diketahui, bahwa keempat mahasiswa ini adalah teman seangkatan di fakultas kesehatan di universitas tersebut. Diskusi ini sempat menghadapi halangan dari beberapa mahasiswa muslim dalam fakultas, hingga ada seorang mahasiswa yang tidak bersedia menunjukkan jatidirinya memberikan surat kaleng kepada Ahmad yang mengingatkan untuk tidak melanjutkan proses diskusi yang menurutnya tidak syar’i. Namun, Ahmad dan ketiga orang temannya tak bergeming. Selama yang mereka lakukan akan membawa maslahat yang nyata dan lebih besar dari madharatnya, maka mereka tidak akan berpaling dari jalan tersebut.

Berlalulah beberapa hari dari diskusi pada hari pertama, dan diikuti dengan beberapa diskusi pada beberapa hari selanjutnya. Setiap kali ia tidak puas dengan penjelasan yang ada dalam buku tersebut, ia datang kepada Ahmad untuk mendiskusikannya dengan kehadiran dua orang yang telah disebutkan di atas. Demikian juga jika ia tidak puas dengan jawaban dan penjelasan Ahmad, maka ia akan mendatangi pendeta yang ia percayai di tempat ia beribadah untuk dapat memberikan bantahan terhadap penjelasan buku tersebut. Namun, alih-alih dia mendapatkan penjelasan yang memuaskan dari sang pendeta, dia justru mendapatkan amarah dari sang pendeta karena mempertanyakan keabsahan dari kitab suci yang selama ini mereka hormati dan muliakan. Oleh karena itu, semenjak saat itu ia tidak pernah lagi pergi ke gereja. Terhitung semenjak diskusi hari pertama dilakukan, ia hanya mendatangi gereja sebanyak dua kali, itupun ia lakukan untuk bertanya kepada pendeta perihal kitab suci agama Nashrani, bukan untuk beribadah. Ini ia lakukan karena ia tidak mendapatkan jawaban dari apa yang ia galaukan, tapi malah mendapatkan amarah dari sang pendeta. Desi adalah seorang mahasiswi yang pandai dalam berdiskusi, namun tatkala ia berada di hadapan al-haq/ kebenaran, maka akan berusaha istiqamah mengamalkan kebenaran tersebut.

Dalam beberapa bulan berikutnya, diskusi yang berlangsung antara mereka berempat akhirnya melebar tentang agama Islam. Ia mulai banyak bertanya tentang Islam, namun diawal diskusi bukan untuk mengenal tetapi untuk mempertanyakan beberapa syariat Islam. Namun, berkat pertolongan Allah ﷻ semata akhirnya setiap kerancuan dia terhadap agama yang mulia ini hilang melalui diskusi yang terus dilakukan secara intensif hingga setengah tahun lamanya. Setelah setengah tahun diskusi dilakukan antara mereka berempat, maka semakin terbukalah hatinya terhadap agama Islam dan semakin tertutup hatinya terhadap agama yang selama ini ia peluk -beserta keluarganya- dengan fanatik. Semenjak saat itulah ia sudah tidak pernah lagi datang ke gereja untuk bertanya tentang kebenaran agama Nasrani, apalagi untuk beribadah didalamnya.

Namun, hati yang terbuka terhadap Islam dan tertutup untuk agamanya yang lama tidak serta merta menjadikannya mau memeluk agama Islam. Masih ada penghalang lain yang menghalanginya untuk menjadi seorang muslim, yaitu keluarga. Semua keluarganya adalah Nasrani tulen, bahkan kakaknya adalah seorang aktifis gereja yang sedang studi di salah satu universitas ternama di Kota Jogja. Desi adalah anak kedua dari tiga bersaudara, semuanya wanita, dan dia memiliki seorang adik wanita yang masih sekolah di tingkat SMP.

Setelah setahun dari pertama kali dilakukan diskusi oleh keempat mahasiswa tadi, belum ada tanda-tanda bahwa Desi akan memeluk agama Islam yang mulia. Dia justru malah berpikir untuk memeluk agama Yahudi yang menurutnya masih lebih baik dari yang lainnya. Dengan serta merta Ahmad mengingatkan bahwa agama Yahudi tidaklah jauh berbeda dengan agama Nasrani yang telah mengalami banyak campur tangan manusia dalam perjalanannya, dan tidak semua orang ketika memeluk agama Yahudi akan mendapatkan pengakuan dari pemeluk Yahudi yang lain. Oleh karena itu, penjelasannya membuat Desi berfikir ulang untuk melanjutkan pencariannya terhadap kebenaran agama Yahudi. Namun ia masih tetap tidak berani mengambil sikap untuk memeluk agama Islam karena faktor keluarga yang terus menghalangi niatnya yang mulia untuk memeluk agama ini.

Dalam beberapa kesempatan, dia terlihat menangis ketika menceritakan perihal apa yang sedang terjadi pada keluarganya. Pada saat yang sama keluarganya telah mengetahui niatannya untuk berpindah agama menjadi seorang muslimah. Seringkali keluarganya menghubungkan kesialan yang menimpa keluarganya dalam beberapa waktu terakhir akibat keinginannya untuk masuk Islam dan Desi pun terhanyut mengikuti perasaan keluarganya. Namun ketiga orang temannya yang senantiasa berdiskusi dengannya dalam waktu setahun lebih senantiasa menguatkan bahwa hal tersebut tidak ada hubungannya sama sekali. Sampai akhirnya suatu ketika Ahmad sedikit putus asa mengharapkan keIslamannya, sampai akhirnya dia membacakan firman Allah ﷻ surat al-Israa’ ayat 15 kepadanya : “Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul”. Ahmad berkata : “Kalau kamu menjadi seorang muslimah, maka itu untuk dirimu sendiri. Namun jika kamu masih tidak mau dengan Islam, maka kamu sendiri yang akan menanggungnnya. Kami tidak bisa menanggung dosamu. Karena kamu sudah mengetahui jika Islam itu benar dan Nasrani itu salah, maka semuanya kembali kepada mu.” Maka semenjak saat itulah ia mulai banyak berfikir dan merenung tentang keputusan apa yang harus ia perbuat.

Waktu terus berlalu dan kegiatan perkuliahan masih berjalan seperti biasanya. Namun Desi masihlah seorang wanita Nasrani yang dalam kebimbingannya. Namun secara sembunyi-sembunyi dia telah belajar agama ini, mulai dari membaca al Qur’an, shalat hingga puasa yang kebetulan pada saat itu adalah bulan Ramadhan tahun 2001M. Dia melakukannya dengan bimbingan teman mahasiswi yang selama ini setia menemaninya, Yudi. Sampai akhirnya keluar dari bulan suci Ramadhan dan sebelum memasuki lebaran para mahasiswa saling meminta maaf antara satu dengan yang lain. Mereka berpisah untuk kemudian ketemu lagi sehabis lebaran.

Pada bulan Syawwal dengan suasana lebaran yang masih sangat terasa dan kegiatan perkuliahan masih dalam musim liburan, tanpa diduga oleh Ahmad, Desi menghubunginya via telepon. Alangkah terkejutnya ia, karena Desi menghubunginya untuk meminta kesediaannya menjadi salah seorang saksi bagi keIslamannya yang akan dilangsungkan di salah satu masjid besar di Kota Surabaya. Subhanallah! Alangkah bahagianya mendapati saudara seiman yang baru, masuk Islam karena mendapati kebenaran yang datangnya dari Allah ﷻ. Mereka merasakan kebahagiaan yang sangat mendalam dengan datangnya saudara baru yang dekat di hati karena keIslamannya.

Akhirnya dua kalimat syahadat pun keluar dari lisannya yang dilakukan di masjid tersebut pada hari yang telah ditentukan. Hadir pada kesempatan tersebut bibi dari jalur ibunya yang muslimah dan beberapa teman kuliah, baik dari satu tingkat maupun yang berasal dari atasnya. Semua yang hadir tidak dapat menahan keluarnya air mata. Tanpa mereka sadari mereka semua menangis bahagia dengan kedatangan saudara seiman yang baru keluar dari kekufuran. Subhanallah! Kehendak-Nya telah mengalahkan semua usaha manusia yang ingin menghalangi kebenaran. Kehendak-Nya pula yang menghalangi keluarganya yang berusaha keras mempertahankannya dalam agamanya. Kalaulah bukan hidayah dari Allah Yang Maha Kuasa niscaya hal ini tidak akan pernah terjadi.

Beberapa hari kemudian masuk perkuliahan setelah libur lebaran. Desi masih seperti sebelumnya dalam berpakaian. Tidak banyak teman-teman mahasiswa yang tahu keIslamannya karena memang ia ingin menyembunyikannya. Namun tidak selamanya dia akan menyembunyikan hal ini karena ini adalah kebaikan yang harus disebarkan, dan iapun menyadari hal ini. Setelah dua minggu keIslamannya, akhirnya ia memutuskan untuk menggunakan hijab. Ia sadar bahwa ini adalah konsekuensi dari keIslaman dan syahadatnya. Dan ketika ia masuk perkuliahan, banyak di antara mahasiswa yang tertegun bercampur kaget dan serasa tidak percaya atas apa yang mereka lihat. Sontak, banyak mahasiswi (mayoritas mahasiswa di fakultas tersebut adalah wanita) mendekatinya dan mengucapkan selamat atas keIslamannya. Jadilah ia sebaik-baik wanita dan paling anggun dengan pakaiannya ketika itu. Hatinya berbaju takwa dan badannya tertutup hijab. Islamnya tergolong baru baginya, namun ia istiqamah di atasnya dengan berhijab. Ia tidak seperti wanita lain yang telah lama Islamnya. Ia seorang muslimah yang konsisten dengan Islamnya. Subhanallah! Inilah pemandangan terindah yang pernah terlihat. Ini semua terjadi pada semester V.

Pada tingkat akhir, dia menyempurnakan keIslamannya dengan menerima lamaran seorang lelaki yang baik, temannya sendiri, yang juga senantiasa menemani mereka bertiga dalam diskusi. Desi berkata ketika dia memutuskan untuk menerima pinangannya, “Jika aku condong kepada fulan, berarti aku menginginkan dunia. Tetapi jika aku menerima lamarannya, berarti aku melakukannya karena Allah dan aku berharap demikian!” Hadi, itulah suaminya saat ini.
Semoga Allah ﷻ melindungi dan membimbing jalan mereka berdua hingga akhir hayat, amin!

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: