Hikmah Berdirinya Manusia di hadapan Allah pada hari Kiamat

Oleh: Habib Abdul Qadir al-‘Idrus, Da’i dan Peneliti Muslim

Sesungguhnya kebangkitan setelah mati adalah termasuk perkara yang telah disepakati oleh ahli syari’at samawiyah (agama langit, agama wahyu, bukan agama bumi atau agama buatan manusia), bahkan oleh seluruh makhluk secara umum, kecuali segelintir orang atheis dan penyembah berhala.

Hikmah yang terkandung di dalamnya sangat nyata dan tidak samar. Seluruh makhluk akan dibangkitkan untuk diberi balasan atas amal perbuatan mereka. Jika amalnya baik maka balasannya baik, dan jika buruk maka balasannya juga buruk. Kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan yang ada di akhirat. Adapun dunia, maka itu adalah negeri ujian dan cobaan yang bersifat sementara. Maka barangsiapa berbuat baik di dalamnya, dan bertakwa kepada Rabb-nya Ta’ala dia termasuk orang-orang yang beruntung dan diberi nikmat oleh Allah Ta’ala di akhirat. Barangsiapa berbuat buruk di dunia, maka dia akan menjumpai balasan buruknya di akhirat.

Allah Ta’ala telah berfirman dalam rangka menjelaskan hikmah hari kebangkitan ini:
أَفَحَسِبۡتُمۡ أَنَّمَا خَلَقۡنَـٰكُمۡ عَبَثً۬ا وَأَنَّكُمۡ إِلَيۡنَا لَا تُرۡجَعُونَ (١١٥) فَتَعَـٰلَى ٱللَّهُ ٱلۡمَلِكُ ٱلۡحَقُّ‌ۖ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡڪَرِيمِ (١١٦)
“Maka apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, raja yang sebenarnya; tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia.” (QS. Al-Mukminun: 115-116)

Dalam ayat tersebut Allah menjelaskan bahwa Diri-Nya adalah Maha Suci dari sifat lemah tersebut, maka mustahil bagi-Nya menciptakan manusia kemudian meninggalkannya tanpa hisab (penghitungan amal) dan tanpa jaza` (pembalasan amal).

Allah Ta’ala berfirman:

إِلَيۡهِ مَرۡجِعُكُمۡ جَمِيعً۬ا‌ۖ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقًّا‌ۚ إِنَّهُ ۥ يَبۡدَؤُاْ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ ۥ لِيَجۡزِىَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ بِٱلۡقِسۡطِ‌ۚ وَٱلَّذِينَ ڪَفَرُواْ لَهُمۡ شَرَابٌ۬ مِّنۡ حَمِيمٍ۬ وَعَذَابٌ أَلِيمُۢ بِمَا كَانُواْ يَكۡفُرُونَ
“Hanya kepadaNyalah kamu semuanya akan kembali; sebagai janji yang benar daripada Allah. Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali (sesudah berbangkit), agar dia memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal saleh dengan adil. Dan untuk orang-orang kafir disediakan minuman air yang panas dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka.” (QS. Yunus: 4)

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ ٱلسَّاعَةَ ءَاتِيَةٌ أَكَادُ أُخۡفِيہَا لِتُجۡزَىٰ كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا تَسۡعَىٰ
“Segungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.” (QS. Thaha: 15)

Allah Ta’ala berfirman:
هَـٰذَا كِتَـٰبُنَا يَنطِقُ عَلَيۡكُم بِٱلۡحَقِّ‌ۚ إِنَّا كُنَّا نَسۡتَنسِخُ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ (٢٩) فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ فَيُدۡخِلُهُمۡ رَبُّہُمۡ فِى رَحۡمَتِهِۦ‌ۚ ذَٲلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡمُبِينُ (٣٠) وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَفَلَمۡ تَكُنۡ ءَايَـٰتِى تُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ فَٱسۡتَكۡبَرۡتُمۡ وَكُنتُمۡ قَوۡمً۬ا مُّجۡرِمِينَ (٣١)
(Allah berfirman): “Inilah Kitab (catatan) kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar. Sesungguhnya kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan”. Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh maka Tuhan mereka memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya (surga). Itulah keberuntungan yang nyata. Dan adapun orang-orang yang kafir (kepada mereka dikatakan): “Maka apakah belum ada ayat-ayat-Ku yang dibacakan kepadamu lalu kamu menyombongkan diri dan kamu jadi kaum yang berbuat dosa?” (QS. Al-Jatsiyah: 29-31)

Allah Ta’ala berfirman:
زَعَمَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَن لَّن يُبۡعَثُواْ‌ۚ قُلۡ بَلَىٰ وَرَبِّى لَتُبۡعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلۡتُمۡ‌ۚ وَذَٲلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ۬
“Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: “Memang, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. At-Taghabun: 7)

Masih banyak tentunya ayat-ayat muhkam (paten, jelas gamblang) lain yang menunjukkan dan menjelaskan bahwa hikmah hari kebangkitan adalah untuk menghitung dan membalas amal.

Seandainya tidak ada masa kebangkitan, maka tentunya kehidupan dunia adalah kehidupan yang terakhir, dan amanlah orang yang berbuat zhalim dan kejahatan dari hukuman. Selain itu dia akan berbuat kerusakan di muka bumi dengan leluasa, sementara orang-orang fakir, dan kaum tertindas di kehidupan ini akan terdiam dalam keadaan merugi.
Kesimpulannya, peniadaan hari kebangkitan akan berakibat berubahnya dunia menjadi kehidupan rimba belantara, di mana yang kuat akan memakan yang lemah, tanpa ada rasa takut dan perhatian kecuali sedikit rasa takut dari pengawasan hakim. Karena betapa banyak jalan untuk berkelit dan meloloskan diri dari penguasanya.

Adapun seorang mukmin, pasti tidak akan berbuat zhalim kepada orang lain. Ia akan bersabar atas susah dan pedihnya kehidupan, menanggung derita di atas jalan ketaatan dan keistiqamahan dengan berharap mencari keridhaan Allah Ta’ala, serta keberuntungan dengan sorga-Nya. Nilai yang demikian tidak akan didapatkan kecuali dengan beriman kepada hari kebangkitan dan setelah datangnya hari kebangkitan.

Allah Ta’ala berfirman tentang orang-orang mukmin yang mengambil kitab catatan amalnya dengan tangan kanannya:
فَهُوَ فِى عِيشَةٍ۬ رَّاضِيَةٍ۬ (٢١) فِى جَنَّةٍ عَالِيَةٍ۬ (٢٢) قُطُوفُهَا دَانِيَةٌ۬ (٢٣) كُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ هَنِيٓـَٔۢا بِمَآ أَسۡلَفۡتُمۡ فِى ٱلۡأَيَّامِ ٱلۡخَالِيَةِ (٢٤)
“Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai, dalam syurga yang tinggi, buah-buahannya dekat, (kepada mereka dikatakan): “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.” (QS. Al-Haqqah: 21-24)

Imâm Muslim rahimahullah meriwayatkan sebuah hadîts dari Anas ibn Malik radhiyallahu ‘anhu dia berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:
« يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صَبْغَةً ، ثُمَّ يُقَالُ : يَا ابْنَ آدَمَ ! هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ ؟ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ ؟ فَيَقُولُ : لاَ وَاللَّهِ يَا رَبِّ ، وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ ، فَيُقَالُ لَهُ : يَا ابْنَ آدَمَ ! هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ ؟ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ ؟ فَيَقُولُ : لاَ ، وَاللَّهِ يَا رَبِّ ، مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ ، وَلاَ رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ »
“Akan didatangkan seorang penduduk bumi yang paling banyak nikmat dari penghuni neraka pada hari kiamat, kemudian dia dicelupkan ke dalam neraka sekali celupan, lalu dikatakan kepadanya: “Wahai anak Adam! Apakah engkau pernah melihat satu kebaikan sekalipun? Apakah ada satu kenikmatan saja yang pernah melaluimu?” Maka dia menjawab: “Tidak, demi Allah wahai Rabb-ku.” Dan didatangkanlah orang yang paling sengsara di dunia dari penduduk surga, kemudian dia dicelupkan kedalam surga sekali celupan lalu dikatakan kepadanya: “Wahai Anak Adam, apakah engkau pernah melihat sebuah kesusahanpun? Apakah ada sebuah kesengsaraanpun yang melaluimu?” Maka dia akan menjawab: “Tidak, wahai Rabb-ku. Tidak ada satu kesengsaraanpun yang melaluiku, dan aku tidak melihat satu kesusahanpun.” (HR. Muslim (5021)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: