MERAIH SUKSES DAN PAHALA DENGAN MODAL NIAT

Abu Musa al-‘Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu (Abdullah ibnu Qais, menjadi gubernur Kufah dan Bashrah untuk Umar kemudian untuk Utsman, utusan ‘Ali dalam perundingan di Shiffin, wafat pada tahun 50 H, dan ada yang mengatakan sesudahnya) berkata: “Niat orang mukmin itu lebih baik dari pada amalnya . Sesungguhnya Allah ﷻ memberi kepada seorang hamba karena niatnya apa yang tidak Dia berikan kepadanya karena amalnya. Yang demikian itu karena niat tidak dimasuki oleh riya’ sedangkan amal bisa dirasuki oleh riya’.” (al-Firdaus bima’tsuril Khithab: 4/286) Hal yang serupa juga dikatakan oleh Ibnul A’rabi (al-Baihaqi, Syu’abul Iman: 6860)

Tsabit al-Bunani Rahimahullah (al-Bashri at-tabi’i, tsiqah, salah satu murid Anas Radhiyallahu ‘anhu bersama dengan al-Zuhri dan Qatadah) berkata: “Niat orang mukmin lebih ‘baligh’ (mengenai sasaran, tujuan) dari pada amalnya, karena orang mukmin berniat bangun malam, berpuasa siang kemudian jiwanya tidak dapat mengikutinya atas hal tersebut. Maka niat orang mukmin lebih mengena daripada amalnya.” (Abu Nu’aim, Hilyatul Auliya’: 2/326)

Sufyan al-Tsauri Rahimahullah berkata: “Tidak pernah ada badan yang tidak mampu untuk sampai pada niatnya (yang jujur), maka dahulukanlah niat kemudian ikutilah ia.” (Hilyatul Auliya’: 7/54)

Zubaid (ibnul Harits al-Yami Rahimahullah , hujjah, meriwayatkan dari Ibnu Abi Laila dan Abu Wail, guru Sufyan ibnu Uyainah dan Syu’bah, wafat tahun 122 H) berkata: “Saya ingin memiliki niat dalam segala hal sampai dalam makan dan minumku.”
(Hilyatul Auliya’: 5/61)

Syahr ibn Hausyab Rahimahullah (al-Syami at-tabi’i, tsiqah) berkata: “Jika seseorang berbicara kepada satu kaum maka pembicaraannya itu akan bertempat di hati mereka seperti tempatnya di hatinya.” (Hilyatul Auliya’: 6/62)

Mutharrif Ibnu Abdillah al-Bashri Rahimahullah (Lahir di masa Rasulullah ﷺ , seorang abid, zahid, mustajab doanya. Bahkan dikatakan di antara karomahnya adalah bertasbihnya perabotan rumahnya jika ia memasuki rumah dan bersinar tongkatnya di malam hari menyinari jalannya) berkata: “Keshalihan hati itu dengan keshalihan amal. Dan keshalihan amal itu dengan keshalihan hati.” (Jamiul ulum wal Hikam:12)

Abdullah ibnul Mubarak Rahimahullah (al-Marwazi Maula Bani Hanzhalah, tsiqah, tsabt, faqih, alim, jawwad, mujahid, Syekh penduduk Khurasan lahir 118 wafat 181 H pada bulan Ramadhan) berkata: “Bisa jadi amal kecil diagungkan oleh niat.” (Jami’ul Ulum walhikam: 14)

Yahya ibnu Abi katsir Rahimahullah (Abu Nashr al-Yamami al-Tha’i, ‘alim ‘abid, meriwayatkan dari Jabir dan Anas, wafat 129 H) berkata: “Belajarlah niat karena ia lebih mengena dari pada amal.” (Hilyatul Auliya’: 3/70)

Abu huzaimah Rahimahullah berkata: “Menuju Allah dengan hati lebih mengenai (tepat, sampai) dari pada dengan gerakan-gerakan amal; shalat, puasa dan lainnya.” (al-Hilyah: 9/311)

Isa ibnu Katsir al-Asadi Rahimahullah berkata: “Saya berjalan bersama Maimun ibnu Mihran (Mufti penduduk jazirah wafat 117 H pada masa Hisyam ibn Abdil Malik) hingga ia mendatangi pintu rumahnya, sedangkan ia bersama puteranya Amr. Ketika saya ingin pergi, Amr berkata kepadanya: Wahai ayah tidakkah anda tawarkan kepadanya makan malam? Maka ia menjawab: Itu tidak ada dalam niatku.” (al-Shamt:: 505)

Ibrahim an-Nakha’i Rahimahullah berkata: “Sesungguhnya seseorang berbicara dengan sebuah pembicaraan yang di dalamnya ada kemungkaran, dengannya ia berniat baik, lalu ia bertemu Allah dengan memiliki alasan dalam hati manusia, hingga mereka berkata membelanya: “Ia tidak bermaksud dengan ucapannya itu kecuali kebaikan.” Sesungguhnya seseorang berbicara dengan pembicaraan yang baik, tetapi tidak diniatkan untuk kebaikan maka ia bertemu Allah dalam hati manusia hingga mereka berkata: “Ia tidak berniat baik dengan ucapannya.” (al-Hilyah: 4/229)

Daud ath-Tha’i Rahimahullah (Abu Sulaiman, ‘alim ‘abid, ia duduk di rumahnya selama kurang lebih 20 tahun hingga wafat pada tahun 165 H. pada masa al-Mahdi, disaksikan jenazahnya oleh penta’ziah dalam jumlah besar) dikatakan kepadanya: “Seandainya anda bergeser dari matahari menuju tempat yang teduh?” Maka ia menjawab: “Langkahku ini, aku tidak tahu bagaimana dicatat.? (Jami’ul Ulum wal Hikam: 72) Ibnu Rajab berkomentar sesudahnya: “Mereka adalah kaum yang ketika hati mereka telah benar; tidak tersisa di dalamnya keinginan untuk selain Allah maka benarlah anggota badan mereka, sehingga mereka tidak bergerak kecuali karena Allah dengan segala apa yang mengandung ridha-Nya.”
Isa ibnu Hazim Rahimahullah (Abul Hasan an-Naisaburi) berkata: “Ibrahim ibnu Adham al-Khurasani, Ibrahim ibnu Thuhman al-Khurasani (tsiqah) dan Sufyan al-Tsauri pergi bersama-sama menuju Thaif. Mereka membawa wadah yang berisi makanan. Ketika mereka menggelar alas untuk makan bersama, tiba-tiba ada sejumlah orang pedalaman (baduwi) berada di dekat mereka, maka Ibrahim ibnu Tuhman memanggil: “Hai saudara-saudara kemarilah.” Maka Sufyan berkata: “Wahai saudara-saudara tetaplah di tempat kalian.” Kemudian Sufyan berkata kepada Ibrahim Ibnu Thuhman: Ambillah dari sebagian nakanan ini apa yang kalian suka lalu bawalah kepada mereka! Jika mereka kenyang maka Allahlah yang telah membuat mereka kenyang, jika mereka tidak kenyang maka mereka lebih mengetahui. Saya khawatir mereka datang kemari lalu memakan semua makanan kita, lalu berubahlah niat kita dan lenyaplah pahala kita.” (al-Hilyah: 6/ 388).
Kita tidak heran sikap para salafus shalih yang luar biasa ini dalam memperhatikan niat mereka, sebab mereka sangat mengimani dan menjiwai ajaran imam mereka yaitu Rasulullah ﷺ yang bersabda tentang pentingnya niat yang jujur:

ما مِنْ عبدٍ يُحَدِّثُ نَفْسَهُ بِقيامِ سَاعَةٍ مِن اللَّيْلِ، فَيَنَامُ عَنْها إلا كَانَ نَوْمُهُ صَدَقَةً تَصَدَّقَ اللَّهُ بِهَا عَلَيْهِ، وكُتِبَ لَهُ أجرُ ما نَوَى
“Tidak ada seorang hamba yang membisikkan kepada dirinya untuk melakukan qiyamullalil dari sebagian malam, kemudian tertidur dari shalat tersebut, melainkan tidurnya itu adalah sedekah yang diberikan Allah kepadanya, dan ditulis untuknya apa yang telah ia niatkan.” (HR. Ibnu Hibban: 2563, dari Abu Dzar atau Abu Darda’. Sedangkan Nasa’i (1462), Ibnu Majah (1385), Ibnu Huzaimah (1172), Hakim (1204), dan Baihaqi (4765) meriwayatkan dari Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhu tanpa ada keraguan dengan redaksi:

مَنْ أَتَىَ فِرَاشَهُ، وَهُوَ يَنْوِي أَنْ يَقُومَ فَيُصَلِّيَ مِنَ اللَّيْلِ، فَغَلَبَتْهُ عَيْنُهُ حَتَّى يُصْبِحَ، كُتِبَ لَهُ مَا نَوَى. وَكَانَ نَوْمُهُ صَدَقَةً عَلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ
“Barang siapa mendatangi tempat tidurnya, sedangkan ia berniat untuk bangun shalat malam, lalu dikalahkan oleh matanya hingga pagi hari maka ditulislah pahala apa yang telah ia niatkan, dan tidurnya tadi adalah sedekah dari Tuhannya.” (Lihat Shahih al-Matjar Rabih nomor 230)

إِنَّمَا الدُّنْيَا لأرْبَعَةِ نَفَرٍ: عَبْدٍ رَزَقَهُ الله مَالاً وَعِلْماً فَهُوَ يَتَّقِي رَبَّهُ فِيهِ وَيَصِلُ بِهِ رَحِمَهُ وَيَعْلَمُ لله فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَفْضَلِ المَنَازِلِ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ الله عِلْماً وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالاً فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِيَ مَالاً لَعمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلاَنٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ الله مَالاً وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْماً فهو يُخْبَطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لاَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَلاَ يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَلاَ يَعْلَمُ لله فِيهِ حَقًّا فَهَذا بِأَخْبَثِ المَنَازِلِ، وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ الله مَالاً وَلاَ عِلْماً فَهُوَ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِيَ مَالاً لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلاَنٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ.
قَالَ أَبُوْ عِيسَى: هذا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.

“Sesungguhnya dunia ini milik empat orang: seorang hamba yang diberi rizki harta dan ilmu oleh Allah, lalu ia bertakwa di dalamnya, menyambung tali rahim dengannya, dan mengetahui hak Allah di dalamnya, maka ini adalah kedudukan yang paling utama. Seorang hamba yang diberi ilmu oleh Allah namun tidak diberi harta, sedang ia jujur dalam niatnya dan berkata: Seandainya saya memiliki harta niscaya saya mengamalkan di dalamnya dengan amalan fulan. Maka ia dengan niatnya ini (diberi pahala), maka keduanya sama dalam pahala.

Seorang hamba yang diberi harta dan tidak diberi ilmu, maka ia membelanjakan hartanya secara ngawur, tanpa ilmu, tidak bertakwa di dalamnya, tidak menyambung tali rahim dengannya dan tidak mengerti hak Allah di dalamnya maka orang ini ada pada tempat yang paling buruk. Seorang hamba yang tidak diberi harta maupun ilmu oleh Allah, sedangkan ia berkata: Seandainya saya memiliki harta pasti aku telah berbuat dengan perbuatan fulan, maka ia dengan niatnya ini (ditulis dosa), maka dosa keduanya adalah sama.” (Hadits shahih dari Abu Kabsyah al-Anmari Rahimahullah, diriwayatkan oleh Tirmidzi: 2362, Ahmad: 17693, Shahih al-Jami’: 3024)*

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: