Penyebab Ateisme & Tips Menanggulanginya

Ateisme menurut bahasa adalah “menyimpang” dan “meninggalkan sesuatu”. Adapun menurut agama adalah “menyimpang dari agama yang benar”. Sedangkan ia terbagi menjadi beberapa bagian, diantaranya ialah: bisa jadi ateisme itu terlahir dari cara-cara syirik dengan memberikan sifat ketuhanan kepada selain Allah Azza Wajalla, atau melibatkan tuhan-tuhan lain ke dalam ketuhanan Allah.

Atau bisa juga dengan mengingkari keberadaan Allah. Dan masing-masing dari kedua macam ateisme tersebut merupakan sebuah penyimpangan dari fitrah manusia dan sekaligus menghapus apa yang menjadi kebutuhan hati.

Sedangkan bentuk yang pertama lebih terkenal diantara manusia sepanjang sejarah manusia, sebab orang-orang musyrik pada zaman dahulu mengakui adanya Tuhan, akan tetapi mereka telah salah dalam mengenal-Nya, dan mereka telah salah pula dalam mempersepsikan- Nya, sehingga ada diantara mereka berbagai pemandangan alam sebagai Tuhan yang disembah. Ada pula yang menjadikan Tuhan kebaikan dan Tuhan kejelekan.

Serta ada pula yang menyembah banyak tuhan namun menjadikan satu Tuhan yang mengalahkan semua tuhan, sebagaimana keyakinan orang-orang Arab pada masa Jahiliyah.

Allah berfirman:

untitled36

Artinya: “Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?’ tentu mereka akan menjawab: ‘Allah’, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar)?” (QS. Al-Ankabut: 61).

Dan juga firman-Nya:

untitled37

Artinya: “Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi?’ atau ‘Siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan?’, dan ‘Siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati serta mengeluarkan yang mati dari yang hidup?’, dan’Siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Allah’. Maka katakanlah: ‘Mangapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” (QS. Yunus: 31).

Adapun bentuk lain dari ateisme yang berarti mengingkari eksistensi Allah, sejatinya pemikiran ini telah menyebar dalam tiga abad terakhir (Abad 18, 19, dan 20) dan hasilnya menimbulkan konflik antara ilmu pengetahuan dan gereja di Eropa. Konflik itu pun berakhir dengan kemenangan ilmu pengetahuan dan mengalahkan para pendukung gereja.

Maka dari kejadian ini, oleh para pemikir telah menjadikannya sebagai alasan untuk menolak agama secara utuh dan mengingkari kebenarannya, terutama masalah iman kepada Allah.

Sehingga fenomena ini (fenomena ateisme) pun menyebar luas terutama di negara-negara Eropa, ia pun berhasil memiliki pemerintahan dan negara yang dapat melindunginya, serta dipersenjatai dengan beberapateori ilmiah dan materi untuk mendukungnya. Lalu fenomena sekulerisme pun dianggap sebagai bagian dari aliran pemikiran ateisme menurut pengertiannya secara umum.

Meskipun sekulerisme dalam penggunaannya secara umum berhubungan dengan pemisahan agama dari negara dan politik, namun sesungguhnya fenomena ini memiliki indikasi lain yang berhubungan dengan hal pemisahan tersebut, yang tidak kalah penting dalam penggunaannya oleh orang Barat kontemporer.

Karena ia menurut kebanyakan para pemikir dan sejarawan menunjukkan atas pelucutan semua yang bersifat sakral/suci dalam agama, seperti masalah iman kepada Allah, kepada ruh, dan juga kepada alam akhirat, kemudian memalingkannya kepada alam visual/nampak yang tidak sakral/suci.

Dan bahwasanya sekulerisme menurut pemahamannya secara umum, yaitu pemisahan agama dari negara dan politik bisa dianggap sebagai sebuah stage awal dalam hubungan kehidupan manusia dengan alam visual atau konkrit, hal itu dikarenakan ia telah memberikan prioritas kepada dunia dalam hal tasyri’ (membuat undangundang) untuk mengatur kehidupan manusia.

Dan ayat Al-Qur’an sebetulnya sudah mensinyalir pemahaman pemikiran sekulerisme, baik secara umum maupun secara substansi, dimana Allah telah berfirman menceritakan tentang perkataan orang-orang yang kafir:

وَقَالُوا إِنْ هِيَ إِلا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا وَمَا نَحْنُبِمَبْعُوثِينَ٢٩

Artinya: “Dan tentu mereka akan mengatakan (pula): ‘Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia ini saja, dan kita sekali-sekali tidak akan dibangkitkan’” (QS. Al-An’aam: 29). Sedangkan dunia adalah satu satunya alam menurut orang-orang sekuler.

Sejarah Terbentuknya Ateisme dan Beberapa Pribadi yang Berpengaruh dalam Pemikiran Ini

Ateisme termasuk faham model baru yang tidak dikenal di zaman dahulu kecuali sangat jarang terjadi pada sebagian bangsa dan perorangan. Dan para pengikut sekulerisme termasuk para pendiri sejati ateisme, diantara mereka itu adalah: pengikut Komunisme, pengikut Eksistensialisme, dan pengikut Darwinisme.

Sedangkan gerakan Zionisme sangat bersemangat menyebarkan faham ateisme yang mengagungkan materialisme secara berlebihan di seluruh dunia dengan berbagai cara, termasuk dengan cara menyebarkan sekulerisme untuk merusak negara dan bangsa, serta keluar dari semua aturan norma dan agama yang mengikat, sehingga umat manusia akan hancur dengan sendirinya, dan ketika ini yang terjadi maka dengan sendirinya Yahudi akan berhasil menguasai dunia.

Lalu Yahudi pun mulai menyebarkan teori Marx dalam perekonomian dan interpretasi materialistik bagi sejarah dan teori-teori Freud di bidang psikologi, teori Darwin tentang asalusul spesies, serta peran teori Chaim dalam sosiologi, yang semua teori ini menjadi dasar-dasar ateisme di dunia.

Adapun penyebaran gerakan ateis di kalangan umat Islam di masa sekarang, itu dimulai setelah jatuhnya kekhalifahan Islam.

Penyebab Ateisme Kontemporer:

  1. Gereja dan agama Kristen yang sudah terdistorsi, yang menyebarkan khurafat, serta yang meng-counter (membendung) perkembangan ilmu eksperimental dan penemuan-penemuan ilmiah.
  2. Tirani ekonomi kapitalis yang menghancurkan moral yang baik, serta menyebarkan keserakahan dan menguntungkan kolonialisme.
  3. Menyebarnya pemikiran sosialis yang mengklaim untuk membela kaum miskin dan yang kurang beruntung dan tertindas, tapi ternyata justru menambah kemiskinan dan kemelaratan.
  4. Kemajuan dan perkembangan materi secara besar-besaran telah menenggelamkan manusia ke dalam hedonisme dan membuat mereka lupa terhadap agama dan kepercayaan, lupa terhadap alam ruh dan alam setelah kematian, serta menjauhkan mereka dari memperhatikan keluarga dan etika yang baik.

Efek Ateisme bagi Dunia:

  1. Munculnya berbagai penyakit jiwa seperti takut dan depresi.
  2.  Munculnya egoisme dan tidak mempedulikan kepentingan orang lain.
  3. Hilangnya keyakinan terhadap agama sehingga menghasilkan berbagai kriminalitas seperti penculikan, pencurian, penggelapan, kekerasan, dan penyimpangan.
  4. Hancurnya aturan keluarga dengan memerangi pernikahan, dan sebaliknya, mendukung hubungan bebas antara pria dan wanita di luar nikah.
  5. Penjajahan di bidang militer, budaya, dan politik oleh negara-negara kuat terhadap negara-negara lemah.

Bagaimana Solusinya?

1. Kembali kepada Tauhidullah (meng-Esakan Allah) dan beriman kepada-Nya, serta kepada semua yang diperintahkan-Nya, terutama iman kepada hari Akhir dan mempersiapkan diri untuknya. Firman Allah :

untitled38Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiaptiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu’, maka diantara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula diantaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya.

Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (Rasul-rasul)” (QS. An- Nahl: 36).

2. Mempersatukan sumber hukum dengan cara ittibaa’ kepada Rasulullah dan menjadikan beliau sebagai suri tauladan yang baik, karena beliau telah datang dengan Al-Qur’an Al-Karim, dan dengan as-Sunnah as-Syarifah, Allah berfirman:

untitled39

Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al-Ahzab: 21).

Dan juga firman-Nya:

untitled40

Artinya: “Katakanlah: ‘Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang’” (QS. An-Nuur: 54).

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: