Peristiwa Terbelahnya Bulan & Keras Kepalanya Orang-orang Musyrik

Oleh: Syekh Sami al-Qasim

Bermula dari semenjak dibangkitkannya Nabi Shallallaahu ‘alayhi wasallam, orang-orang musyrik senantiasa menempuh segala cara untuk menentang dakwah Nabi Shallallaahu ‘alayhi wasallam agar tidak sampai kepada manusia, diantaranya adalah dengan sukhriyah (pelecehan), takzib (pendustaan), penghinaan terhadap pribadi Nabi Shallallaahu ‘alayhi wasallam dan terhadap risalahnya, tahzir (peringatan keras bagi siapa saja yang mengikutinya) serta dengan berbagai tuduhan dan ciri-ciri diantaranya menuntut agar beliau mendatangkan sebuah mukjizat yang dapat membuktikan kebenarannya dan mempersaksikan kenabiannya, lalu mereka berpura-pura menampakkan kesiapannya untuk mengikuti dan mempercayai beliau jika seandainya beliau bisa menunjukkan hal itu, padahal di balik itu mereka sebenarnya bermaksud melemahkannya serta menempatkannya dalam posisi yang sulit.
Allah Ta’ala berfirman:

بَلۡ قَالُوٓاْ أَضۡغَـٰثُ أَحۡلَـٰمِۭ بَلِ ٱفۡتَرَٮٰهُ بَلۡ هُوَ شَاعِرٌ۬ فَلۡيَأۡتِنَا بِـَٔايَةٍ۬ ڪَمَآ أُرۡسِلَ ٱلۡأَوَّلُونَ (٥) مَآ ءَامَنَتۡ قَبۡلَهُم مِّن قَرۡيَةٍ أَهۡلَكۡنَـٰهَآ‌ۖ أَفَهُمۡ يُؤۡمِنُونَ
Artinya: “Bahkan mereka berkata (pula): ‘(Al-Qur’an itu adalah) mimpi-mimpi yang kalut, malah diada-adakannya, bahkan dia sendiri seorang penyair, maka hendaknya ia mendatangkan kepada kita suatu mukjizat, sebagaimana rasul-rasul yang telah lalu diutus’”.

Tidak ada (penduduk) suatu negeri pun yang beriman, yang telah Kami binasakan sebeIum mereka; maka apakah mereka akan beriman?” (QS. Al-Anbiyaa’ : 5-6).

Dan firman-Nya:

يَـٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّ أَرۡضِى وَٲسِعَةٌ۬ فَإِيَّـٰىَ فَٱعۡبُدُونِ (٥٦) كُلُّ نَفۡسٍ۬ ذَآٮِٕقَةُ ٱلۡمَوۡتِ‌ۖ ثُمَّ إِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ
Artinya: “Dan orang-orang kafir Mekkah berkata: ‘Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Tuhannya?’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya mukjizat- mukjizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata’.”

“Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al-Qur’an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman” (QS. Al-Ankabut: 50-51).

Dan Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Israa ayat 90-92.

وَقَالُواْ لَن نُّؤۡمِنَ لَكَ حَتَّىٰ تَفۡجُرَ لَنَا مِنَ ٱلۡأَرۡضِ يَنۢبُوعًا (٩٠) أَوۡ تَكُونَ لَكَ جَنَّةٌ۬ مِّن نَّخِيلٍ۬ وَعِنَبٍ۬ فَتُفَجِّرَ ٱلۡأَنۡهَـٰرَ خِلَـٰلَهَا تَفۡجِيرًا (٩١) أَوۡ تُسۡقِطَ ٱلسَّمَآءَ كَمَا زَعَمۡتَ عَلَيۡنَا كِسَفًا أَوۡ تَأۡتِىَ بِٱللَّهِ وَٱلۡمَلَـٰٓٮِٕڪَةِ قَبِيلاً
Artinya: “Dan mereka berkata: ‘Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami. Atau kamu mempunyai sebuah kebun kurma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya. Atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami’.”

Maka Allah Azza Wa Jalla memerintahkan Nabi-Nya agar berkata kepada kaumnya:

أَوۡ يَكُونَ لَكَ بَيۡتٌ۬ مِّن زُخۡرُفٍ أَوۡ تَرۡقَىٰ فِى ٱلسَّمَآءِ وَلَن نُّؤۡمِنَ لِرُقِيِّكَ حَتَّىٰ تُنَزِّلَ عَلَيۡنَا كِتَـٰبً۬ا نَّقۡرَؤُهُ ۥ‌ۗ قُلۡ سُبۡحَانَ رَبِّى هَلۡ كُنتُ إِلَّا بَشَرً۬ا رَّسُولاً۬
Artinya: “… Katakanlah: ‘Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini melainkan hanya seorang manusia yang menjadi Rasul?’” (QS. Al-Israa: 93).

Dan di hadapan tuntutan orang-orang musyrik yang sedemikian banyaknya terhadap Nabi Shallallaahu ‘alayhi wasallam maka Allah Ta’ala menampakkan kepada mereka sebuah ayat sebagai bentuk pengabulan terhadap tuntutan mereka yaitu mereka menyaksikan mukjizat terbelahnya bulan sehingga mereka melihat gunung Harra’ di antara kedua keping bulan tersebut, sedangkan hadits-hadits yang menyebutkan hal ini sangat banyak diantaranya sebagai berikut:

Apa yang diriwayatkan oleh Bukhariy dari Anas Radhiyallaahu ‘anhu ia berkata: “Penduduk Mekkah meminta kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alayhi wasallam agar memperlihatkan kepada mereka sebuah ayat, maka beliau memperlihatkan kepada mereka terbelahnya bulan, maka dengan demikian turunlah ayat:

ٱقۡتَرَبَتِ ٱلسَّاعَةُ وَٱنشَقَّ ٱلۡقَمَرُ (١) وَإِن يَرَوۡاْ ءَايَةً۬ يُعۡرِضُواْ وَيَقُولُواْ سِحۡرٌ۬ مُّسۡتَمِرٌّ۬
Artinya: ‘Telah dekat datangnya hari Kiamat dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: ‘(Ini adalah) sihir yang terus menerus’.” (QS. Al-Qamar: 1-2).

Dan dari Jubair bin Muth’im Radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata: “Bulan telah terbelah pada zaman Nabi Shallallaahu ‘alayhi wasallam menjadi dua bagian; satu bagian berada di atas gunung ini dan bagian lainnya di atas gunung ini, maka mereka berkata: ‘Muhammad telah menyihir kita.’ Maka sebagian mereka ada yang berkata: ‘Jika betul ia telah menyihir kita maka ia tidak mungkin dapat menyihir semua orang’.” (HR. Tirmidziy).

Dari Abdullah bin Abbas Radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata: “Orang-orang Quraisy berkata kepada Nabi Shallallaahu ‘alayhi wasallam: ‘Berdo’alah kepada Tuhanmu agar Ia menjadikan untuk kami bukit Shafa ini menjadi emas dan kami akan beriman kepadamu.’ Beliau berkata: ‘Kalian akan melakukannya?’ Mereka berkata: ‘Iya’.” Ia (Abdullah bin Abbas Radhiyallaahu ‘anhu) berkata: “Maka beliau berdoa, lalu Jibril pun datang dan berkata: ‘Sesungguhnya Tuhanmu mengucapkan salam kepadamu dan Ia berfirman: ‘Jika kamu mau bukit Shafa ini akan dijadikannya untuk mereka emas, dan barangsiapa diantara mereka yang ingkar setelah ini maka Aku akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah akan Aku gunakan untuk mengazab siapa pun dari penduduk alam semesta ini, dan jika kamu mau Aku akan membukakan bagi mereka pintu rahmat dan taubat’.’ Beliau berkata: ‘Bahkan pintu rahmat dan taubat’.” Dan Ibnu Abbas Radhiyallaahu ‘anhu berkata: “Maka Allah menurunkan ayat berikut ini:

وَمَا مَنَعَنَآ أَن نُّرۡسِلَ بِٱلۡأَيَـٰتِ إِلَّآ أَن ڪَذَّبَ بِہَا ٱلۡأَوَّلُونَ‌ۚ وَءَاتَيۡنَا ثَمُودَ ٱلنَّاقَةَ مُبۡصِرَةً۬ فَظَلَمُواْ بِہَا‌ۚ وَمَا نُرۡسِلُ بِٱلۡأَيَـٰتِ إِلَّا تَخۡوِيفً۬ا
Artinya: ‘Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasan Kami), melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu. Dan telah Kami berikan kepada Tsamud unta betina itu (sebagai mukjizat) yang dapat dilihat, tetapi mereka menganiaya unta betina itu. Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti’ (QS. Al-Israa: 59)” (HR. Ahmad).

Dan bulan tidak pernah terbelah untuk seseorang pun kecuali hanya untuk Nabi kita Shallallaahu ‘alayhi wasallam, walaupun kendati agungnya mukjizat yang satu ini namun dikarenakan hati orang-orang Quraisy sudah kadung sakit parah dan akal-akal mereka yang sudah kadung keras bagai batu telah menjadikan mereka tidak beriman kepadanya, bahkan mereka menuduhnya telah melakukan hal itu dengan bantuan sihir, hal tersebut adalah kebodohan mereka dengan kekuasaan Allah Ta’ala terhadap jagad raya ini, serta tindakan mutlak-Nya terhadap semua makhluk-Nya.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: