SAHABAT SEJATI

Oleh: Dr. Khalid Sa’ad An-Najjar

Diantara unsur-unsur penopang masyarakat muslim dan sumber kebangkitannya, sekaligus sebagai bukti keberhasilannya adalah (jika. Pent-) tingkah laku seluruh individunya mencerminkan sebuah kehidupan yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur, seperti saling mencintai, saling mengasihi, tolong-menolong, toleransi, mendahulukan kepentingan orang lain, berkorban dan memberi, serta gemar mempersembahkan kebaikan-kebaikan untuk orang lain. Sebab seorang yang hidup dalam sebuah masyarakat yang tidak menjunjung tinggi nilai-nilai luhur sudah dapat dipastikan kehidupannya tidak akan bahagia dan tenteram, oleh karena dominasi keburukan di atas kebaikan, merajalelanya kenistaan, hilangnya kehormatan, hati nurani dipenuhi iri dengki dan kebencian, sehingga hal itu melemahkan unsur-unsur kasih sayang, ukhuwwah Islamiyah, dan toleransi dari kehidupan seluruh individunya. Padahal Allah Ta’ala pada saat menciptakan manusia, Dia telah menunjukkan kepada mereka jalan-jalan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat, begitu pula Dia telah mengingatkan mereka dari jalan-jalan kehancuran, kesesatan, dan penyimpangan, Allah Ta’ala berfirman:

مَنۡ عَمِلَ صَـٰلِحً۬ا مِّن ذَڪَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٌ۬ فَلَنُحۡيِيَنَّهُ ۥ حَيَوٰةً۬ طَيِّبَةً۬‌ۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا ڪَانُواْ يَعۡمَلُونَ

Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS. An-Nahl: 97).

Dan diantara komitmen Al-Qur’an dalam konsep pendidikan sosial adalah menjadikan kedudukan saudara muslim sama dengan kedudukan diri sendiri, Allah Ta’ala berfiman:

لَّوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ظَنَّ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَـٰتُ بِأَنفُسِہِمۡ خَيۡرً۬ا وَقَالُواْ هَـٰذَآ إِفۡكٌ۬ مُّبِينٌ۬

Artinya: “Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: ‘Ini adalah suatu berita bohong yang nyata’?” (QS. An-Nur: 12).

Penjelasan ayat di atas adalah: Sebagaimana orang tidak mau disangka buruk oleh orang lain maka ia pun dituntut untuk tidak berburuk sangka terhadap orang lain selain dirinya, tidak membicarakannya melainkan kebaikannya, sebagaimana ia tidak suka jika orang lain membicarakan keburukannya. At-Thabariy Rahimahullah berkata: “Ayat ini sebagai teguran keras yang Allah gunakan untuk mengingatkan orang-orang mukmin yang telah ikut berburuk sangka kepada bunda Aisyah ^, seakan-akan Allah mengingatkan mereka dengan ungkapan demikian: ‘Mengapa tidak, kalian wahai manusia pada saat kalian mendengar tuduhan para pendusta itu tentang ‘Aisyah, orang-orang mukminin dan mukminah berprasangka baik terhadap diri mereka sendiri?’ Dan ingat di ayat ini Allah menggunakan kata-kata  بِأَنفُسِہِمۡ (diri mereka sendiri), sebab semua orang Islam diibaratkan dengan satu jiwa, itu karena mereka berada di atas Agama yang sama”.

Dan Allah Ta’ala berfiman:

فَإِذَا دَخَلۡتُم بُيُوتً۬ا فَسَلِّمُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُم

Artinya: “… Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah  hendaklah kamu memberi salam kepada dirimu sendiri …” (QS. An-Nur: 61).

Padahal sebetulnya jika seseorang hendak masuk ke dalam rumah orang lain maka ia harus mengucapkan salam kepada penghuninya, dan bukan kepada dirinya sendiri, hal ini dipertegas oleh ayat sebelumnya, yaitu:

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَدۡخُلُواْ بُيُوتًا غَيۡرَ بُيُوتِڪُمۡ حَتَّىٰ تَسۡتَأۡنِسُواْ وَتُسَلِّمُواْ عَلَىٰٓ أَهۡلِهَا‌ۚ ذَٲلِكُمۡ خَيۡرٌ۬ لَّكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat” (QS. An-Nur: 27).

Maka dalam ayat 61 tadi Allah Ta’ala menjadikan semua penghuni rumah sebagai satu jiwa, dan dalil yang lain adalah hadits yang diriwayatkan oleh At-Thabariy Rahimahullah dari Al-Hasan dan Ibnu Zaid tentang firman Allah Ta’ala berikut ini:

فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ} قَالَ: إِذاَ دَخَلَ الْمُسَلِّمُ سُلِّمَ عَلَيْهِ، كَمَثَلِ قَوْلِهِ: (وَلاَ تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ) إِنَّمَا هُوَ: لاَ تَقْتُلْ أَخَاكَ الْمُسْلِمَ.

Artinya: “Apabila kalian memasuki rumah maka ucapkan salam kepada diri kalian”. Ia berkata: “(maksudnya adalah. Pent-): ‘Ucapkan salam kepada penghuninya’, ini sama dengan firman-Nya: ‘(Dan jangan kalian membunuh diri kalian)’, maksudnya adalah: ‘Jangan kamu membunuh saudaramu sesama muslim’. Dan firman-Nya:

وَلَا تَلۡمِزُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ

Artinya: ‘… Janganlah suka mencela dirimu sendiri …(QS. Al-Hujurat: 11). Padahal orang itu tidak mungkin mencela dirinya sendiri akan tetapi orang lain yang ia cela. Namun demikian Allah Ta’ala menjadikan orang lain seumpama diri sendiri. Oleh karena itu, Imam At-Thobariy Rahimahullah berkata: “Firman Allah di atas maknanya adalah ‘Janganlah sebagian kalian melecehkan sebagian yang lain wahai kaum mukminin, dan janganlah sebagian kalian merusak kehormatan sebagian yang lain’, sebab dalam ayat ini Allah mengkategorikan orang yang mencela saudaranya sesama muslim ibarat orang yang mencela dirinya sendiri, sebab orang-orang mukmin bagaikan satu tubuh yang mengharuskan untuk bersikap baik terhadap saudaranya”.

Rasulullah Shallallaahu ‘alayhi wasallam bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذاَ اشْتَكىَ مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهْرِ وَالْحُمَّى.

Artinya: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang diantara mereka seumpama satu tubuh, jika satu anggota tubuh mengeluh sakit maka akan membuat seluruh tubuh tidak bisa tidur dan panas demam” (HR. Muslim).

Dan di dalam Shahih Bukhariy dari Sahabat Anas Radhiyallaahu ‘anhu, dari Nabi Shallallaahu ‘alayhi wasallam, beliau bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لَنَفْسِهِ.

Artinya: “Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sampai ia mencintai saudaranya (sesama muslim) sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”.

Anas bin Malik Radhiyallaahu ‘anhu memiliki kebiasaan baik, yaitu setiap pagi ia mengoleskan tangannya dengan minyak wangi untuk menyalami saudaranya sesama muslim. Dan contoh lain yang menggambarkan kesucian hati Ibnu Abbas Radhiyallaahu ‘anhu, bahwasanya ia pernah dicaci oleh seseorang, maka ia menjawab dengan mengatakan: “Apakah kamu tega mencaciku padahal aku memiliki tiga kebiasaan; yaitu aku tidak membaca satu ayat pun melainkan aku berharap semua orang mengetahui (tafsirnya. Pent-) seperti yang aku ketahui, dan aku tidak mendengar tentang seorang hakim yang adil melainkan aku merasa bahagia lalu mendoakannya padahal aku tidak mempunyai kasus yang ditanganinya, serta aku tidak mendengar tentang kabar turunnya hujan di suatu negeri melainkan aku memuji Allah dan merasa senang padahal sama sekali aku tidak memiliki satu ekor onta dan satu ekor kambing.

Abu Sulaiman Ad-Dariniy berkata: “Aku tidak meletakkan satu suap makanan di dalam mulut saudaraku (melainkan) aku merasakan lezatnya makanan itu di dalam tenggorokanku”.

Berkata Muhammad bin Munadzir: “Aku berjalan bareng bersama Al-Kholil bin Ahmad maka tiba-tiba tali sandalku terputus, maka ia turut melepaskan kedua sandalnya, maka aku berkata, ‘Apa yang kamu lakukan?’ Ia berkata: ‘Kita nyeker (berjalan tanpa alas kaki) bareng-bareng”. Itu menggambarkan bahwa ia tidak tega berjalan dengan kedua sandal sedangkan saudarannya berjalan tanpa sandal.

Dan Mujahid Rahimahullah berkata: “Aku menemani Ibnu Umar dengan maksud bisa membantunya, (namun) kenyataannya justru dia yang membantuku”.

Al-Imam Al-Munawiy pernah menukil ucapan seseorang: “Selama tiga puluh tahun aku beristighfar karena ucapan ‘Alhamdulillah’-ku, itu disebabkan oleh bencana kebakaran yang terjadi di Baghdad, namun seseorang datang menemuiku dan mengatakan bahwa kiosku selamat, maka aku mengucapkan‘Alhamdulillah’. Maka semenjak itu aku merasa menyesal, karena aku telah menginginkan kebaikan untuk diriku sendiri dan tidak untuk kaum muslimin”.

Al-Faruq Umar bin Al-Khatthab Radhiyallaahu ‘anhu berkata: “Aku tidak mendebat seseorang melainkan aku berharap kebenaran akan keluar dari ucapannya”.

Yunus As-Shodafiy berkata tentang Imam Syafi’iy Rahimahullah: “Aku tidak melihat ada orang yang lebih dewasa dari Syafi’iy. Suatu hari aku pernah berdebat dengannya dalam satu masalah, kemudian kami pun berpisah. Dan suatu saat ia menemuiku dan menarik tanganku lalu berkata: ‘Wahai Abu Musa, bukankah kita tetap menjadi saudara walaupun kita tidak sepakat dalam satu masalah?’”

Dan Imam Syafi’iy Rahimahullah ketika berbicara tentang sosok Imam Ahmad Rahimahullah (sedangkan Imam Ahmad Rahimahullah termasuk salah satu dari murid-muridnya) maka beliau tidak menyebut namanya sebagai bentuk penghormatan kepadanya, akan tetapi ia berkata: “Kami diceritakan oleh orang yang tsiqoh di kalangan sahabat-sahabat kami”.

Imam Ahmad Rahimahullah menyebutkan tentang sosok Ibnu Rohawaih Rahimahullah yang pernah tidak sependapat dengannya, ia berkata demikian: “Tidak ada yang pernah menyeberang sampai ke negeri Khurasan seperti Ishak bin Rohawaih, meskipun ia tidak sependapat dengan kami dalam banyak hal, karena manusia akan selalu berselisih pendapat diantara mereka”.

Dan Ibnu Hubairah termasuk satu-satunya orang yang memperoleh ilmu dan fikih sekaligus jabatan menteri secara bersamaan, ia memiliki kajian yang dipenuhi para ulama dari pembesar empat Mazhab. Suatu ketika pada saat ia berada di dalam majelis kajiannya, ia menyebutkan tentang sikap Imam Ahmad Rahimahullah yang memiliki pendapat berbeda dengan tiga Mazhab (Imam Abu Hanifah, Malik, dan Syafi’iy Rahimahumullah), maka tiba tiba berdiri seorang ulama dari kalangan Mazhab Malikiyah yang bernama Abu Muhammad Al-Asyiriy, ia berkata: “Bahkan Imam Malik juga berpendapat seperti itu”. Maka Ibnu Hubairah berkata: “Kitab-kitab ini adalah buktinya” sambil menunjukkannya, yang mana semua kitab tersebut menyebutkan pendapat Imam Ahmad Rahimahullah yang berbeda dengan pendapat ketiga Imam lainnya, tapi Abu Muhammad Al-Asyiriy tetap berkata: “Bahkan Imam Malik juga berpendapat seperti itu”. Akhirnya semua ulama yang hadir di majelis itu angkat bicara, dan mereka mengatakan: “Bahkan itu adalah pendapat Imam Ahmad saja”, tetapi ia (Abu Muhammad Al-Asyiriy) masih mengklaim bahwa itu juga pendapat Imam Malik Rahimahullah.  Lalu Ibnu Hubairah pun naik pitam dan berkata: “Kamu ini binatang atau apa? Apakah kamu tidak mendengarkan para ulama ini yang menegaskan bahwa ini adalah pendapat Imam Ahmad, sedangkan kitab-kitab ini menjadi saksinya, kemudian kamu masih saja bersikeras dengan perkataanmu?!!”

Maka majelis kali ini pun berakhir. Dan pada majelis berikutnya yang diadakan di hari kedua, seorang ulama dari Mazhab Malikiy yang bernama Al-Asyiriy pun ikut hadir seakan-akan tidak pernah terjadi apa yang telah terjadi di hari kemarin. Kemudian datanglah Ibnu Hubairah dan para ulama lainnya. Maka seorang yang biasa bertugas membaca hendak memulai membaca untuk kemudian di-ta’lik oleh Ibnu Hubairah, namun ia berkata: “Berhenti, jangan kamu teruskan bacaanmu, karena di kejadian kemarin Al-Asyiriy berhak mengatakan apa yang menjadi pendapatnya, namun kemudian dia memaksaku untuk mengatakan apa yang aku katakan tentang dirinya. Maka sekarang ia boleh mengatakan kepadaku seperti apa yang aku katakan kepadanya, karena aku tidak lebih baik dari kalian, aku ini sama seperti kalian”. Maka semua yang hadir pun menangis, mereka terkesan dengan akhlak beliau yang mulia dan luhur, lalu suara do’a dan pujian terdengar sahut-menyahut untuk Al-Faqih Ibnu Hubairah, kondisi ini membuat Al-Asyiriy lawannya meminta maaf dan berkata: “Aku yang salah, maka aku lebih pantas meminta maaf”, namun Ibnu Hubairah menjawab: “Qishas harus ditegakkan”. Salah seorang berkata: “Wahai tuan kami, jika ia (Al-Asyiriy) menolak qishos maka sebagai gantinya adalah al-fida’ (ganti rugi dengan harta)”. Lalu Al-Faqih Ibnu Hubairah berkata: “Apapun keputusannya maka itu terserah dia, hukumlah aku sesukamu”. Kemudian Al-Asyiriy berkata: “Kebaikanmu terlalu banyak yang telah kamu berikan untukku, lalu jenis hukum apa lagi yang tersisa untukku?” Ibnu Hubairah menjawab: “Allah telah memberikan kepadamu hak untuk menghukumku, karena ucapanku kemarin”, maka ia (Al-Asyiriy) menjawab: “Kalau begitu, aku punya sisa hutang semenjak aku tinggal di negeri Syam”, maka Al-Faqih Ibnu Hubairah berkata sambil memberikan kepadanya seratus Dinar untuk menebus kesalahannya: “Semoga Allah memaafkanku dan memaafkanmu dan semoga Dia mengampuni dosamu dan dosaku”!

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: