SARAH

“Lampu merah… jalan macet… acara tinggal beberapa menit… celaka, lama sekali lampu merah ini. Andai saja aku di depan sana, pastilah aku potong. Detik demi detik berjalan dengan lambat seakan seperti beberap menit, atau bahkan beberapa jam. Sekali waktu aku melihat ke arah jam, dan sekali waktu ke lampu merah.

Lampu hijaupun menyala, kutekan bel mobilku untuk mengagetkan seluruh pengendara. Mobil-mobilpun bergerak, kulampaui mobil pertama, dan hampir saja aku menabrak yang kedua. Caraku menyetir membuat orang-orang di sekitarku kaget. Aku berusaha untuk cepat, namun aku tidak mampu. Waktu telah berlalu, hilanglah perjanjian, aku tidak menemukan kawan-kawanku, mereka telah pergi.

Kemana aku pergi? Aku memilih-milih jawaban… aku merasa sempit dadaku… andai saja aku tahu tempat mereka. Mobil berjalan dengan lambat… aku terus berfikir… klakson mobil lain membangunkanku dari lamunan. Akupun melihat kepada pemilik mobil itu dengan marah, kutuding dia seraya berkata, “Pelan-pelan, dunia tidak akan terbang…” Aku telah melupakan kejadian beberapa menit yang lalu.

Aku putuskan untuk begadang di rumah. Ini adalah ide yang baik. Putriku satu-satunya tengah sakit. Maka yang lebih utama adalah aku berada di dekatnya. Aku hentikan mobilku di depan rental video. Aku turun… kemudian aku pilih beberapa film. Setelah itu akupun beranjak pulang kerumah. Kubuka pintu, kupanggil istriku, “Ambilkan teh dan camilan!”

Istriku masuk ke ruangan. Inilah dia istriku. Sekarang dia akan berkata kepadaku, “Takutlah kepada Allah, wahai Ahmad!” Aku sudah terbiasa dengan kalimat tersebut hingga aku bosan terhadapnya. Akan tetapi dia adalah seorang istri yang taat. Dia rela susah hanya demi kebahagiaanku. Dia masuk dengan membawa teh dan camilan. Dia tersenyum kepadaku dan berkata, “Pastilah kamu bosan begadang dengan teman-temanmu, dan ingin duduk di rumah.” Kujawab, “Ya. Kemarilah, dan duduklah!” Diapun senang dan berkeinginan untuk duduk.

Akupun berdiri menuju ke video player dan TV, kuputar musik rock. Istriku tertunduk, kemudian berkata, “Takutlah kepada Allah, wahai Ahmad!” Diapun keluar denga menyeret ujung-ujung kesedihan dan kegundahan. Dia tidak mau mendengarkan musik.

Suara musikpun meninggi di dalam ruangan. Teriakan… tertawaan… akupun meminum teh, dan memakan camilan. Kedua mataku tidak tidur mengarah ke layar TV. Selesailah kaset pertama, lalu kaset kedua. Sementara waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Tiba-tiba gagang pintu bergerak perlahan, aku berteriak, “Apa yang kamu inginkan?” Aku tidak mendengar satu jawaban. Pintupun terbuka… masuklah putriku yang sedang sakit. Kejadianpun mengagetkanku. Aku diam sebentar dan tidak berkata-kata. Dia mendekat kepadaku, melihat kepadaku dengan sangat tenang, kemudian berkata, “Takutlah kepada Allah wahai ayah… takutlah kepada Allah wahai ayah!” Kemudian dia pergi dan menutup pintu.

Akupun memanggilnya, “Sarah… Sarah…!” Dia tidak menjawab. Akupun menyusulnya. Hampir aku tidak percaya, apakah ini putriku? Kubuka pintu kamar, kudapati dia telah mendahuluiku ke ranjangnya, dan dia tidur dalam pelukan ibunya. Ternyata dia adalah putriku.

Aku kembali ke ruang tamu. Kumatikan video player. Suara putriku memenuhi ruangan, “Takutlah kepada Allah wahai ayah… takutlah kepada Allah wahai ayah…!”

Rasa gemetar pun merambat keseluruh tubuhku, keringat mengalir dari kepalaku. Aku tidak tahu apa yang menimpaku. Aku tidak mendengar kecuali suaranya, dan aku tidak melihat kecuali rupanya. Kalimatnya telah menembus seluruh pembatas yang bertengger di dalam dadaku sejak lama… meninggalkan shalat… maksiat… rokok… dan film-film porno… Dia telah membangunkanku dari kelalaian. Jantungku berdetak dengan cepat. Kuhempaskan tubuhku ke bumi. Aku berusaha tidur. Akan tetapi aku tidak mampu. Waktupun berjalan dengan cepat.

Gambaran masa lalu terpampang di hadapanku. Setiap gambaran terbayang suara putriku berulang-ulang, “Takutlah kepada Allah… takutlah kepada Allah…!” Pada saat itulah terdengar suara adzan. Tubuhku tergetar, urat leherku gemetar, dan ujung-ujung tubuhku gemetaran. “Asshalaatu khairun minan naum…!” Ku katakana, “Kamu benar, shalat lebih baik daripada tidur. Oh… sungguh aku telah tertidur selama bertahun-tahun.

Akupun berwudhu` dan keluar menuju masjid. Akupun berjalan di jalan seakan-akan aku belum pernah mengenalnya. Seakan-akan hembusan fajar mengejekku, “Di mana kamu selama ini…?” Burung-burung langit berkata, “Selamat datang wahai tukang tidur, akhirnya kamu terbangun juga…!”

Akupun masuk masjid, shalat dua rakaat, lalu duduk membaca al-Qur`an. Dengan seksama aku membaca al-Qur`an. Sudah lama aku tidak membaca al-Qur`an. Aku merasa al-Qur`an bertanya kepadaku, “Kenapa engkau meninggalkan aku bertahun-tahun yang lalu? Bukankah aku adalah kalam Rabbmu?”

Aku membaca berulang-ulang surat az-Zumar:
قُلۡ يَـٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسۡرَفُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُواْ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا‌ۚ إِنَّهُ ۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS. Az-Zumar: 53)
Menakjubkan… semuanya…? Sungguh, betapa rahmatnya Allah kepada kita. Aku ingin meneruskan membaca, akan tetapi muadzin telah iqamah. Aku diam beberapa saat di tempatku, kemudian aku maju bersama manusia. Aku berdiri di dalam shaf seakan-akan aku orang asing.

Selesailah shalat. Aku duduk di masjid hingga matahari terbit. Kemudian aku pulang ke rumah. Kubuka pintu kamar. Aku lemparkan pandanganku ke istri dan putriku, Sarah. Keduanya dalam keadaan tidur.
Kutinggalkan keduanya keluar untuk bekerja. Bukan kebiasaanku pergi kerja di awal waktu. Rekan-rekankupun terkejut akan keberadaanku. Ucapan selamat dengan disertai sindiranpun meluncur. Aku tidak menghiraukan perkataan mereka. Kedua mataku mencari-cari di pintu. Aku menunggu kedatangan Ibrahim, rekanku di kantor yang selalu memberikan nasihat kepadaku. Dia adalah seorang yang baik akhlaqnya, baik pergaulannya.

Ibrahimpun datang. Aku berdiri menyambutnya. Dia tidak percaya dengan kedua matanya, dia bertanya, “Engkau Ahmad?”
Kujawab, “Ya.” Kutarik tangannya seraya berkata, “Aku ingin berbicara denganmu.”
Dia menjawab, “Tidak masalah, kita bicara di kantor…”

Kujawab, “Tidak, kita pergi ke tempat istirahat.”
Ibrahim diam, mencurahkan perhatian kepada ucapanku. Kuceritakan padanya peristiwa tadi malam. Kedua matanyapun penuh dengan air mata, serta tersenyum dengan senyum lebar. Dia berkata kepadaku, “Itu adalah cahaya yang telah menyinari hatimu, maka janganlah engkau matikan dengan maksiat!”

Hari itu adalah sebuah hari yang dirayakan dengan semangat tinggi dan kesungguhan, sekalipun aku belum tidur semalaman. Senyuman menghiasi wajahku, ahli dalam pekerjaan, orang melihat kepadaku seraya meminta pertolonganku. Sebagian mereka berkata, “Kecekatan apa ini?” Kujawab, “Shalat subuh di masjid.”

Kasihan Ibrahim. Dia menanggung keletihan yang lebih besar dari pekerjaannya. Sedangkan aku, dulu aku tidur… Dia tidak mengeluh, juga tidak menggerutu. Sungguh seorang yang baik. Ya, itu adalah iman saat kelezatannya telah merasuki hati.

Waktupun berlalu, dan akupun tidak merasakan keletihan dan kepayahan. Ibrahim berkata kepadaku, “Ahmad, kamu wajib pulang kerumah. Engkau belum tidur semalaman. Aku akan melakukan pekerjaanmu…!” Akupun melihat jam… adzan zhuhur kurang beberapa menit. Akupun memutuskan untuk tetap tinggal.

Muadzdzinpun adzan, aku bergegas menuju masjid, lalu duduk di shaf yang pertama. Aku merasa menyesal atas hari-hari yang dulu aku lari menuju kerja pada waktu shalat. Selesai shalat, aku beranjak menuju rumah.
Di tengah perjalanan, aku merasa gelisah. Bagaimana keadaan Sarah? Aku merasa tertekan, aku tidak tahu mengapa? Aku merasa jalan ini menjadi panjang, rasa takutpun semakin bertambah. Aku angkat kepalaku ke langit, aku berdo’a kepada Allah agar memberikan kesembuhan kepada putriku.

Akupun sampai kerumah. Kubuka pintu, kupanggil istriku. Aku tidak mendengar satu jawaban. Akupun masuk kamar dengan cepat. Istriku menahan nafasnya sambil menangis, dia menoleh kepadaku. Dia menangis sambil berkata, “Sarah telah meninggal.”

Aku merasa belum jelas dengan apa yang dia katakan. Akupun beranjak ke arah Sarah. Kupeluk dia didadaku, aku berusaha menggendongnya… tangannya pun terjatuh lunglai ke bumi, tubuhnya dingin, demikian pula kedua tangan dan kakinya, detak jantungnya… nafasnya… Aku tidak mendengar sesuatupun. Aku melihat wajahnya, cahaya yang berkilauan, seperti bintang di langit. Kubangunkan dia, kugerakkan dia, kugoyangkan dia… Ibunya berkata, “Sarah… Sarah… telah meninggal… telah meninggal…!” Kemudian menangis tersedu-sedu.

Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Seakan-akan itu adalah sebuah mimpi… Air matapun berlinangan dari kedua mataku. Akupun menarik nafas. Kulihat wajah cantiknya, rambutnya yang indah, kucium bibirnya yang mungil… seakan-akan dia mengulang kata-katanya, “Sungguh tercela, sungguh tercela engkau … wahai ayah…!”

Akupun ingat bahwa ini adalah sebuah musibah. Akupun mengulang-ulang, “Lâ haula walâ quwwata illâ billâhi… innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn.” Akupun menghubungi Ibrahim, kukatakan kepadanya, “Segeralah kemari… Sarah telah meninggal!”

Kaum wanita dan istriku memandikan putriku di dalam. Mereka selesai memandikannya. Mereka bungkus tubuhnya yang suci dengan secercah kain putih. Istriku memanggilku. Akupun masuk agar aku mengucapkan salam perpisahan untuk terakhir kalinya. Hampir saja ku terjatuh di atas tanah. Akupun berpegangan, kucium keningnya… Aku janjikan dia keteguhan hingga mati. Aku melihat kepada ibunya, lebam kedua matanya, pucat wajahnya, tertekan. Kukatakan kepadanya, “Jangan bersedih hati, dia telah pergi ke surga dengan izin Allah, di sanalah kita akan bertemu, maka berbahagialah agar dia memberikan syafaat kepada kita…!” kemudian aku membaca ayat:

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱتَّبَعَتۡہُمۡ ذُرِّيَّتُہُم بِإِيمَـٰنٍ أَلۡحَقۡنَا بِہِمۡ ذُرِّيَّتَہُمۡ وَمَآ أَلَتۡنَـٰهُم مِّنۡ عَمَلِهِم مِّن شَىۡءٍ۬‌ۚ كُلُّ ٱمۡرِىِٕۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ۬
“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. At-Thur: 21)

Ibunya menangis dan akupun demikian…
Kami shalat jenazah atasnya, kemudian kami bawa dia ke kuburan. Aku melihat kepada jenazah seakan-akan aku melihat kepada cahaya yang menerangi kehidupanku.

Kami sampai di kuburan… tempat asing… menakutkan… Kami menuju kubur, aku berdiri di atas sisi kubur. Di sinilah aku akan meletakkan putriku. Ibrahim memegang kedua pundakku, seraya berkata, “Bersabarlah, wahai Ahmad.”
Akupun turun ke liang kubur. “Ini adalah rumahmu wahai Ahmad… bisa jadi hari ini, bisa jadi besok. Apa yang kau siapkan untuk rumah ini?”

Ibrahim berkata, “Ahmad, ambillah putrimu!” Aku meletakkannya di dadaku. Aku senang seandainya aku yang menguburnya di sini. Kupeluk dia, kuciumi dia, kemudian kuletakkan pada sisi kanannya, seraya kukatakan, “Bismillâh wa ‘alâ millati Rasûlillâh.” Kususun batu bata, kututup setiap celah, aku keluar dari kubur, dan mulailah manusia menutupinya dengan tanah. Akupun tak kuasa menahan air mataku. Ya Allah tetapkan hati ini di atas agamu hingga hari perjumpaan dengan-Mu.

Diterjemahkan dari Kisah-Kisah Nyata www.saaid.net*

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: