Shalat Awwabin

Oleh: ‘Utsman Shalih, Imam Masjid as-Shabirin Jeddah

Shalat awwabin adalah shalat dhuha yang dilakukan dua rakaat, empat, enam, atau delapan rakaat setelah terbitnya matahari hingga mendekati waktu zhuhur. Mengakhirkannya hingga saat menyengatnya panas adalah lebih utama. Dalil yang demikian itu adalah hadits dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah ﷺ keluar menuju orang-orang di masjid Quba’ sementara mereka dalam keadaan shalat. Maka Nabi ﷺ bersabda:

صَلاةُ الأَوَّابِينَ إِذَا رَمِضَتْ الْفِصَالُ
“Shalat awwabin (dilakukan) saat anak-anak onta sudah kepanasan.” (HR. Muslim (1238))

Di dalam sebuah riwayat Imam Ahmad rahimahullah dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ mendatangi masjid Quba’, atau memasuki Masjid Quba’ setelah matahari terbit, ternyata mereka (yang ada di dalam Masjid) sedang shalat maka beliau ﷺ bersabda:

إِنَّ صَلاةَ الأَوَّابِينَ كَانُوا يُصَلُّونَهَا إِذَا رَمِضَتْ الْفِصَالُ
“Sesungguhnya shalat awwabin, mereka melakukkannya saat anak onta kepanasan.”

Di dalam sebuah riwayat Imam Muslim rahimahullah dari al-Qasim as-Syaibani bahwa Zaid ibn Arqam radhiyallahu ‘anhu melihat suatu kaum yang shalat di waktu dhuha, maka dia berkata, “Tidakkah mereka mengetahui bahwa tidak shalat pada waktu ini adalah lebih utama, sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda:

صَلاةُ الأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ
“Shalat awwabin saat anak onta kepanasan.” (HR. Muslim 1237)

Shalat Awwabin adalah shalat dhuha, sebanyak dua rakaat, empat rakaat, enam atau delapan rakaat. Delapan rakaat adalah yang paling utama, dengan salam pada setiap dua rakaat. Waktunya dimulai saat meningginya matahari seukuran tombak hingga sesaat sebelum zawal.

Imam Nawawi rahimahullah berkata, ‘Sabda Nabi ﷺ :

صَلاةُ الأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ
“Shalat awwabin saat (kaki-kaki anak) onta kepanasan.”
Yaitu dengan memfathah ta` dan mim [تَرْمَضُ], dan kata [الرمضاء] yaitu kerikil yang menjadi sangat panas karena terik matahari, yaitu saat kuku-kuku kaki anak-anak onta terbakar karena pananya kerikil -hingga dia mengangkat kuku-kuku kakinya dan meletakkannya karena panasnya bumi-. Dan [الأواب] adalah orang yang taat. Dan dikatakan orang yang kembali kepada ketaatan. Di dalam hadits terdapat keutamaan shalat pada waktu tersebut, yaitu waktu shalat dhuha yang paling utama, sekalipun boleh melakukannya sejak terbitnya matahari hingga waktu zawal. (Syarah Muslim, Imam Nawawi rahimahullah)

Kesimpulannya bahwa shalat awwabin adalah shalat dhuha, berdasarkan sabda Nabi ﷺ :
لاَ يُحَافِظُ عَلىَ صَلاَةِ الضُّحَى إِلاَّ أَوَّابٌ، وَهِيَ صَلاَةُ اْلأَوَّابِيْنَ
“Tidaklah menjaga shalat dhuha kecuali awwab (orang-orang banyak taat), dan shalat dhuha adalah shalat awwabin (shalatnya orang-orang yang kembali kepada ketaatan, atau banyak melakukan ketaatan).” (HR. Ibnu Huzaimah, al-Hakim dan dihasankan oleh Imam al-Albani rahimahullah dalam shahih al-Jami’ dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu (2/1263).

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: