SYUKUR DAN TATA CARANYA (bag. 1)

1. Abu Darda`
“Betapa banyak nikmah Allah yang terdapat pada urat (tempat mengalirnya darah) yang diam.” (Abu Daud, al-Zuhd, 244)

2. Ja’far ibn Muhammad
Imam Baihaqi meriwayatkan dari Sufyan al-Tsauri, dia berkata:
“Saya masuk menemui Ja’far ibn Muhammad saat beliau berada di dalam masjidnya, lalu beliau berkata: Apa yang membuatmu datang wahai Sufyan? Dia berkata: saya berkata: mencari ilmu. Maka beliau berkata:
يَا سُفْيَانُ إِذَا ظَهَرَتْ عَلَيْكَ نِعْمَةٌ فَاتَّقِ اللهَ وَإِذَا أَبْطَأَ عَنْكَ الرِّزْقُ فَاسْتَغْفِرِ اللهَ وَإِذَا دَهَمَكَ أَمْرٌ مِنَ الْأُمُوْرِ فَقُلْ: لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ
“Wahai Sufyan jika tampak nikmat padamu maka bertakwalah kepada Allah. Jika rizki lambat datang padamu maka beristighfarlah kepada Allah. Jika satu perkara menyerangmu maka ucapkan: laa hawla wala quwwata illa billah.”
Kemudian beliau berkata: Wahai Sufyan tiga perkara, mana ada seperti 3 perkara ini.” (Syuabul Iman, 670)

3. Bakar ibn Abdillah al-Muzani

يَا ابْنَ آدَمَ إِنْ أَرَدْتَ تَعْلَمَ قَدْرَ مَا أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْكَ فَاغْمِضْ عَيْنَيْكَ
“Wahai ibni Adam jika kamu ingin mengetahui nilai nikmat yang diberikan kepadamu, maka pejamkanlah kedua matamu.” (As-Syu’ab, 4/446)

4. Ruh ibnul Qasim
Ruh al-Qasim berkata: salah seorang ahli nusuk (ibadah) berkata: aku tidak mau makan Khabish (manisan kesohor terbuat dari tepung semolina, margarin dan gula) dan Faludzaj (manisan dari gandum dan madu) karena aku tidak bisa mensyukurinya! Lalu saya bertemu Hasan Bashri, dan saya ceritakan kepada beliau hal tersebut maka beliau berkata:
هَذَا إِنْسَانٌ أَحْمَقُ، أَوَ يَقُوْمُ بِشُكْرِ الْمَاءِ الْبَارِدِ؟
“Ini manusia yang pandir, apakah ia mensyukuri air yang segar?! (Ahmad, al-Zuhd, 323)

5. Sa’id al-Jariri
Sa’id al-Jariri datang dari haji lalu berkata: Dalam safar kami Allah telah memberi kami nikmat ini dan nikmat itu” Ia menyebut nikmat-nikmat Allah, lalu berkata:
تِعْدَادُ النِّعَمِ شُكْرُهَا
“Menghitung nikmat-nikmat adalah bentuk mensyukurinya.” (‘Uddatush-Shabirin, 181)

6. Ali ibnul Madini
Ibnul Madini berkata: ditanyakan kepada Sufyan ibn Uyainah: Apa batasan zuhud itu? Dia berkata:
أَنْ تَكُوْنَ شَاكِرًا فِي الرَّخَاءِ صَابِرًا فِي الْبَلاَءِ، فَإِذَا كَانَ ذَلِكَ فَهُوَ زَاهِدٌ
“Yaitu kamu bersyukur dalam kemakmuran, bersabar dalam musibah. Jika yang ada seperti itu maka ia orang yang zuhud.” Lalu ditanyakan kepada Sufyan: Syukur itu apa? Dia menjawab:
أَنْ تَجْتَنِبَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ
“Yaitu kamu menjauhi apa yang Allah larang.” (As-Syu’ab, 4/4438)

7. Mutharrif
Mutharrif berkata: Saya melihat kebaikan yang tidak mengandung keburukan dan penyakit, -karena setiap sesuatu ada penyakitnya- ternyata ia adalah syukur.” (As-Syu’ab, 4/4435)

8. al-Maharjuri
Mahrajuri berkata: Tidak akan hilang suatu nikmat jika disyukuri dan tidak ada nikmat yang tinggal jika dikufuri.” (As-Syu’ab, 4/4561)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: